Thursday, October 18, 2007

Kalau harus berurusan dengan hal-hal yang berbau IT, level otak saya tidak ada bedanya dengan level otak seekor kera. Tiba-tiba jadi bego. Karena buat saya, hal yang satu ini terlampau rumit. Saya cenderung untuk memilih berperan sebagai pemakai saja. Malas rasanya kalau harus berurusan dengan algoritme atau markup language (apapun itu artinya). Saya cukup menjadi user setia. Toh, orang yang bisa menyetir mobil memang tidak perlu sampai harus mengerti seluk beluk mesin. Atau bahkan sampai membuat mobil sendiri. Iya kan?

Dodolnya adalah ketika saya ingin coba-coba membuat layout baru untuk blog ini. Niatnya sih sudah bagus, biar belajar sekalian membuat tampilan blog ini jadi lebih nendang gituloh. Terdengar asyik aja. Saya pun memulai dengan mengambil template dari Gecko&Fly, berharap ini akan seperti membeli makanan beku dari supermarket. Tinggal masuk microwave, beres.

Ternyata kenyataan berkata lain, layout yang muncul membuat saya cukup mengerenyutkan alis. Karena memang tidak seperti yang saya harapkan. Saya sedikit kecewa. Lantas, saya pun berniat untuk mengedit si template. Tidak lama kemudian saya masuk ke editor Blogspot, dan dihadapkan pada satu set bahasa pemrogaman. Seketika, layar monitor saya langsung penuh dengan kode-kode ajaib. Saya langsung bengong, layaknya gorila disodorkan iPod.

Namun pada akhirnya tidak seburuk dugaan saya. Tiga jam kemudian (ditambah keringat dan air mata), saya mulai mengerti prinsip dasarnya. Dan satu jam kemudian, saya pun mulai menikmatinya. Benar-benar tidak seburuk yang saya bayangkan. Meskipun memang, ada beberapa yang bikin saya gemes karena berulang kali diedit tetap saja tidak membuahkan hasil. Kalau sudah begitu, saya tinggal tarik nafas dalam-dalam. Dan sedikit menenangkan diri sambil bergumam kalau saya ini masih pada kategori amatir.

Mungkin jabatan otak kera bisa saya tinggalkan sejenak. Setidaknya untuk masalah mengedit blog kecil-kecilan. Ternyata tidak begitu sulit. Atau mungkin malah dia dunia ini sebenarnya tidak ada hal yang benar-benar sulit. Karena menurut saya, semua pasti ada dasarnya. Semuanya punya prinsip kerja. Setelah itu, hanya sekedar logika dan proses belajar. Sama dengan orang yang menyetir mobil tadi. Kalau ia juga mengerti prinsip mesin bekerja, bukan mustahil dia bisa membuka kap mesin dan mulai bekerja. Ya, setidaknya bisa untuk tune up mesin kecil-kecilan.

Tuesday, October 16, 2007

Berjalan menyusuri kota Paris membawa saya ke suatu tempat yang tidak asing lagi bentuk dan rupanya. Trocadero. Sebuah teras besar yang menghadap langsung ke salah satu ikon dunia. Dimana ikon ini berdiri dengan megahnya di tengah kepadatan kota Paris. Menjulang tinggi dan tampak gagah sekali. Kalau saja dia bisa bicara, saya yakin dia akan berkata, 'Saya Menara Eiffel. Dan kamu, sedang berada di Paris'.

Trocadero nampak persis seperti 10 tahun yang lalu, terakhir kali saya mengunjungi Paris. Tidak ada yang berubah. Masih tempat turis dimana orang berjalan berdesakan. Dimana terlihat orang berteriak dan bergumul untuk foto bersama. Dimana banyak orang berkulit gelap menghampar tikar dan berjualan. Kata orang ini khas Trocadero. Kata saya ini pelataran Monas. Tidak ada bedanya. Sesak. Dan saya orang yang paling benci dengan keramaian.

Saya pun berjalan ke ujung teras. Menyaksikan si Eiffel. Setelah dua kedip mata, saya membalikan badan. Entah mengapa, menurut saya sih biasa saja. Mungkin saya memang bukan peminat tempat-tempat wisata kali ya. Saya orang yang lebih menikmati duduk di pinggir cafe. Meneguk secangkir cappucino dan melihat orang lalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Saya lebih suka datang ke supermarket, belanja, kemudian pulang ke hotel menggunakan kereta bawah tanah. Saya lebih suka mencoba makanan-makanan yang mustahil saya temukan di tempat lain. Saya orang yang sangat menikmati kebudayaan.

Masih di Trocadero, mata saya tertuju pada sekumpulan orang. Telinga saya segera menyusul. Sekelompok orang berbaju putih sedang asyik memainkan berbagai jenis perkusi. Satu orang sibuk memberi komando. Dari label yang melekat pada alat perkusi, saya segera tahu bahwa mereka adalah komunitas musik dengan nama Muleketu. Mereka memainkan lagu dengan tempo cepat, diselingi dengan tarian dan putaran-putaran drumstick. Luar biasa indah. Ini dia, pikir saya. Budaya.

Sambil menikmati pukulan perkusi mereka, saya asyik sendiri dengan kamera. Melupakan kegagahan menara Eiffel yang masih menjulang tinggi di belakang saya, melihat punggung saya dari kejauhan. Saya sibuk memotret. Saya lupa akan dunia. Saya hanyut dalam harmonisasi samba. Dengan mata yang tidak lepas dari viewfinder kamera, saya pun berkata dalam hati. 'Nah, ini baru travelling'.

P.S: Foto-foto yang saya ambil bisa dilihat dibawah ini. Untuk melihat video Muleketu di youtube, silakan klik disini.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Monday, October 15, 2007

Pernah nonton film berjudul The Bourne Identity? Kalau pernah, pasti masih ingat bagaimana lihainya Jason Bourne mengelabui Alexander Conklin, kepala blackops dari Operasi Treadstone. Meskipun sudah cukup lama, saya masih ingat persis adegan dimana si Conklin berjalan ke sebuah jembatan, kemudian menghadap timur dan membuka jaketnya. Persis sesuai instruksi yang diberikan. Sementara itu, Jason Bourne mengintai Conklin dari atap sebuah bangunan. Teleskopnya tertuju tepat ke arah sebuah jembatan dimana Conklin berada. Nama jembatan itu Pont Neuf. Jembatan tua yang menghubungkan 3 daratan. Berlokasi di tengah-tengah kota mode dunia. Paris.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Hari kedua dari kunjungan singkat ke Paris, saya menyempatkan diri melihat langsung jembatan ini. Bagus, memang. Konon inilah jembatan tertua di kota Paris, mulai dibangun di tahun 1578. Kenapa namanya Pont Neuf (Jembatan Baru), ngga usah saya bahas disini lah ya. Silakan cari sendiri di Wikipedia.

Tapi buat saya jembatan tetaplah jembatan, tempat orang menyeberang. Sama seperti angkot tetaplah angkot, transportasi umum yang bikin macet Bandung. Namun jembatan ini sedikit menggugah hati, karena itu tadi. Bourne Identity. Saya hampir berpikir untuk menginjakkan kaki di jembatan itu. Mungkin sambil menghadap timur dan buka jaket. Mungkin juga divariasikan sedikit dengan menari poco-poco. Tapi niat itu saya urungkan, bukan karena saya tidak ingin dilihat iba oleh orang lewat, melainkan karena tidak jauh dari situ ada sesuatu yang lebih menggiurkan. Sebuah jalan panjang yang penuh dengan tempat yang sudah lama tidak pernah saya lihat. Tempat yang dinyatakan ilegal di beberapa negara Eropa. Penuh kontroversi. Ada yang mendukung. Ada juga yang bilang ini salah satu bentuk penyiksaan dan pelanggaran hak. Pet shop.

Iya, pet shop, toko dimana semua anak hewan tidak berdaya dikumpulkan di satu tempat. Saya girang bukan main, karena saya tahu di dalam sana ada berbagai jenis anak anjing dan kucing. Yang terpikir oleh saya hanya dua, usap-usap anak hewan dan memotret. Saya senang, karena saya yakin: foto anak kucing akan jauh lebih menarik daripada foto jembatan. Kecuali kalau di jembatan ada Jason Bourne lagi menari poco-poco.

Sempat terpikir bahwa memotret akan dilarang di dalam sana. Saya takut nanti malah diusir pakai sapu oleh sang empunya toko. Dengan penuh pertimbangan, jawaban diplomatis pun saya siapkan. Kalau sampai ditanya kenapa saya mengambil foto, saya akan bilang dengan pede, 'Istri saya di Belanda mau saya belikan anak kucing. Makanya harus saya foto, supaya dia bisa memilih mana yang bagus dan mana yang tidak'. Super ngibul. Dan kalau jawaban itu tidak memuaskan (atau yang bersangkutan tidak bisa bahasa Inggris), saya akan jalankan plan B: lari terbirit-birit keluar toko kaya anjing kampung.

Bermodalkan dua strategi matang tersebut, saya pun melenggang masuk toko penuh percaya diri.

Sesuai perkiraan. Anak hewan tidak berdaya dikumpulkan di satu tempat. Lucu. Menggemaskan. Kamera saya pun bekerja. Dan ketakutan saya akan sepak terjang sapu pun hilang, karena si penjaga toko malah tersenyum melihat saya dengan kamera. Untung. Berikut adalah foto-foto yang berhasil saya jepret. Harga untuk setiap hewan juga saya cantumkan, lumayan untuk sekedar geleng-geleng kepala.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Kucing siam, masih kecil. Lucu sekali. Harga 1,650 euro.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Labrador kecil. Harga 850 euro.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Dua Jack Russel rebutan jilatin tangan. Jari saya dikira sumber susu. Masing-masing 600 euro.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Dua kucing tertidur pulas. Masing-masing 650 euro. Yang beginian sih di Bandung juga banyak, tinggal ngambil di got depan rumah. Gratis.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Kawanan Jack Russel, juga sedang tertidur pulas. Di sampingnya ada mainan. Dasar bayi.


Namun ternyata, tidak semua anjing dan kucing ini lucu dan menggemaskan. Sebagian berkelakuan diluar wajar. Sempat terpikir oleh saya, jangan-jangan tempat ini adalah sirkus. Atau lebih parah, ternyata saya masuk ke rumah sakit jiwa untuk binatang berkaki empat. Berikut foto-fotonya.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Labrador ketiduran dengan posisi super sangat aneh. Saya sarankan untuk tidak diadopsi. Tipe seperti ini bisa tidur dimana saja, termasuk tidur ketika dibawa jalan-jalan. Repot.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Ini saya ngga ngerti kenapa dia harus bikin posisi seperti ini. Mungkin bawaannya memang banci kamera. Pilihan yang cocok untuk para fotografer.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Ini salah satu contoh anjing stress. Sangat berkeinginan untuk keluar kandang, sehingga giginya nempel di teralis. Tidak cocok untuk disimpan di halaman rumah. Bisa bikin pagar jebol.


Namun dari seluruh keanehan, tidak ada yang lebih aneh dari salah satu kucing yang dijual disana. Kucing ini tertangkap basah sedang menimbang berat badan! Atau setidaknya begitulah yang terlintas di kepala saya ketika melihat dia, karena si kucing ini memang agak gendut.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Ini dia. Tertangkap basah lagi seru inspeksi lemak perut.


Si kucing gendut asyik sekali melihat ke bawah, persis seperti orang sedang menimbang badannya di kamar mandi. Lama sekali. Saya sampai garuk-garuk kepala, sambil berkata dalam hati, 'Ini kucing kenapa sih?'. Setelah beberapa jepret foto, saya memutuskan untuk mendekatkan diri ke si kucing.

Kemudian, seperti merasa sedang diperhatikan, si kucing menolehkan kepalanya dan memandang langsung ke mata saya. Dia terlihat kaget dan langsung melotot, seolah tersirat pesan, 'Mampus, ketauan deh gue bisa berdiri. Jangan-jangan dia juga tau kalau gue suka makan pake garpu dan doyan nonton serial 24'. Saya pun sama saja, tetap melotot ke arah si kucing, berharap dia melakukan sesuatu yang lebih ajaib, misalnya garuk-garuk pantat atau tiba-tiba gosok gigi. Meskipun saya sadar, begitu si kucing mengambil sikat gigi, saya pasti langsung jatuh pingsan.

Kita pun saling berpandangan, sama-sama bengong. Pernah merasakan suatu saat dimana seluruh waktu terasa berhenti, dan seluruh dunia pun turut berhenti berputar? Inilah saat-saat itu. Kejadian paling aneh dalam hidup saya. Bertukar pandang dengan kucing yang berdiri dengan dua kaki. Untungnya saya bawa kamera. Saya memutuskan untuk berhenti bengong dan mulai memotret si kucing.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


Namun setelah beberapa lama, akhirnya si kucing duduk juga dan langsung meringkuk. Sementara saya masih bengong. Saking bengongnya sampai saya tidak sempat melihat harga si kucing. Dan setelah saya mengusap-usap beberapa anak anjing untuk berpisah, saya pun pergi keluar toko. Sesekali menengok ke belakang, untuk memeriksa apakah si kucing tadi sedang menatap saya. Ternyata tidak. Untungnya tidak!

Memang menyenangkan sekali berhubungan dengan anjing dan kucing. Mereka telah hidup berdampingan dengan manusia untuk entah berapa ratus tahun lamanya. Teman hidup. Dan bagi Anda yang butuh kehangatan dan kasih sayang, atau sekedar teman cerita di kala sepi, saya sarankan untuk memelihara anjing atau kucing. Mereka bisa menjadi teman baik, yang memberi kasih sayang sepenuhnya. Dan semua orang tentu butuh kasih sayang. Semua orang. Tidak terkecuali agen CIA yang ahli bela diri dan tidak kenal ampun. Tidak terkecuali Jason Bourne.

Kalau saya seandainya bisa bertemu Jason Bourne di Pont Neuf, mungkin saya akan ajak dia untuk mampir sebentar ke pet shop tadi. Saya akan suruh dia untuk ambil satu. Karena disana banyak sekali hewan kecil yang butuh rumah untuk tinggal, setidaknya tempat yang layak untuk pup. Bukan di kotak kaca yang sempit dan penuh sesak.

Keluar dari toko, saya pun menengok sebentar ke arah jembatan tadi, seolah mengucapkan selamat tinggal. Kemudian dengan kamera yang masih setia menemani di genggaman tangan, saya kembali meneruskan perjalanan. Kali ini menuju Notre Dame.

Thursday, October 11, 2007

Dalam beberapa bulan terakhir ini, dunia maya nampaknya dikejutkan (lagi) dengan booming salah satu social networking service (iya, lagi). Namanya Facebook. Saya sendiri terseret dalam arus ledakan. Hanya dalam hitungan minggu, teman saya bertambah dari 10 menjadi 105. Itu sekitar sepuluh kali lipat. Dahsyat. Padahal Facebook ini tidak lebih hebat dari, katakanlah Friendster atau MySpace. Prinsipnya juga masih sama: pasang foto, tulis about me, lalu tinggal lihat komen yang diberikan orang.

Mungkin booming yang terjadi akibat dari latah, atau ikut-ikutan. 'Gua juga harus bikin', gitu. Mirip seperti sineas Indonesia yang berduyun-duyun memproduksi film bertemakan horror. Kualitasnya dikesampingkan dulu. Namun booming ini mungkin juga akibat dari satu feature yang Facebook tawaran. Aplikasi. Ketika saya menulis blog ini, terhitung tidak kurang dari 5,613 aplikasi yang bisa ditambahkan di halaman kita. Jenisnya bermacam-macam. Ada yang berhubungan dengan musik, permainan, politik, bisnis, atau film. Ada juga yang berjenis balapan.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Aplikasi 'balapan' ini diberi nama (fluff)Friends. Disini kita bisa mengadopsi hewan peliharaan, memberi makan dan mengusap-usap (saya tidak bisa menemukan terjemahan pas untuk pet). Kemudian, kita bisa menantang hewan lain untuk balapan. Lumayan lucu. Tapi yang menarik untuk saya, adalah bahwa kemenangan si hewan ditentukan oleh dua faktor: kecepatan dan mood (lagi-lagi saya tidak bisa menemukan terjemahannya, biar deh ya). Dengan kata lain, hewan yang cepat dan bahagia kemungkinan menangnya akan lebih besar jika bertanding melawan hewan lambat dan bete. Logis sih memang. Tapi saya jadi berpikir, mungkin tidak sih kalau hewan ini jadi cepat karena sedang bahagia? Atau ternyata dia jadi lambat karena sedang bete? Mungkin saja toh? Itu kan juga logis.

Saya menghabiskan 4 bulan di semester lalu hanya untuk mempelajari ini. Apakah satu variabel memiliki hubungan yang kuat dengan yang lainnya apa tidak. Kalau iya berhubungan, seberapa kuat? Di statistik, ini dikenal dengan istilah analysis of covariance. Lebih baik tidak usah dibahas disini ya. Sebelum tulisan ini jadi membosankan. Sebelum nanti Meity marah-marah. Karena saya tahu, Meity paling benci matematika. Tapi coba lihat deh, teori kemungkinan ada dimana-mana. Ramalan cuaca pagi ini bilang kalau nanti malam, ada 20% peluang untuk turun hujan. Pertandingan sepakbola juga sama, selalu ada peluang kemenangan di setiap pertandingan. Meskipun untuk sepakbola, sedikit agak rumit. Banyak sekali variabelnya. Tapi pada dasarnya sama saja. Kemarin tim favorit saya, Intermilan, sukses menghantam Napoli 2-1. Dua gol diborong oleh Julio Cruz. Mungkin karena dia sedang tidak bete. Mirip dengan si hewan tadi.

Tapi walaupun kita sudah menghitung seakurat mungkin, tetap saja masih bisa salah. Kejadian tidak terduga seringkali terjadi. Karena selalu ada faktor lain yang memang tidak bisa dihitung. Orang menyebutnya 'faktor X'. Faktor keberuntungan. Ini juga yang membuat banyak orang mengeluh, merasa dirinya tidak seberuntung atau secakep Keanu Reeves. Atau mengeluh kenapa dirinya susah mendapatkan nilai ujian yang memuaskan. Tapi meskipun faktor keberuntungan tidak bisa dihitung, menurut saya keberuntungan tidak mustahil untuk diraih. Kuncinya kerja keras. Kalau boleh mengambil quote dari Thomas Jefferson, salah satu founding fathers negara kaya Amerika Serikat, katanya begini: I'm a great believer in luck. And I find that the harder I work, the more I have of it. Nah, yang ini juga logis kan?

Wednesday, October 10, 2007

Pernah nonton acara kuis berjudulkan kalimat di atas? Tadi malam saya iseng menyaksikan untuk yang pertama kalinya. Lucu juga. Konsepnya adalah dengan menantang si kontestan dengan pertanyaan-pertanyaan sekolah dasar, mulai dari 1st grade sampai 5th grade. Lawannya adalah anak berumur 10 tahun. Terdengar mudah. Namun ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Coba saja lihat disini.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Tapi memang kalau dipikir-pikir, materi sekolah anak SD memang terbilang sulit. Butuh memory yang hebat lho untuk bisa menghafal seluruh letak kota di hamparan Pulau Sumatra. Dan juga tidak gampang untuk mengingat seluruh menteri (beserta tugasnya) pada Kabinet Pembangunan IV jaman Pak Harto. Kagum. Kalau seandainya sekarang saya harus menghafal susunan lapisan awan di angkasa, saya pasti kesulitan. Tapi waktu kelas 5, saya yakin saya bisa.

Ketika masih menonton, saya berpikir. Kalau saja pertanyaannya mengenai hitung-hitungan, saya pasti bisa jawab. Karena kalau berhitung, sampai sekarang masih saya lakukan. Lantas keluarlah pertanyaan hitungan. Saya tersenyum penuh percaya diri. Pertanyaannya begini: How many teaspoons there are in 5 tablespoons? Mampus, saya tidak tahu jawabannya. Senyum saya hilang seketika. Ini mengingatkan saya pada dua hari yang lalu, dimana saya mau masak dan menanyakan resep pada ibu saya di rumah. Katanya, 'Siapin aja daging cincang 2 ons'. Saya lantas bingung, 2 ons itu berapa banyak? Ibu saya pun tertawa, katanya sarjana teknik mesin tapi kok tidak tahu bilangan ons. Biar saja, toh memang saya tidak pernah menghitung kekuatan struktur daging cincang.

Memang penting ya memori itu? Rasanya, kebanyakan orang sukses tidak mengandalkan pada memori. Agus Misyadi, satu-satunya orang yang mampu memenangkan 500 juta rupiah di acara Who Wants to be a Millionare versi Indonesia, adalah seorang loper koran di kawasan Cibubur. Kaya mendadak, iya. Sukses, belum tentu. Memang, memiliki memori tajam tidak menjamin kesuksesan. Lalu, buat apa sekolah susah-susah? Buat apa menghafal seluruh nama menteri? Toh nanti juga diganti. Toh nanti juga lupa lagi.

Ayah saya pernah bilang, kalau sekolah itu adalah untuk melatih pola pikir. Melatih logika dan kemampuan analitik. Membentuk karakter. Kuliah juga begitu, katanya semua jurusan tidak ada bedanya. Karena intinya sama, melatih kita untuk berpikir. Melatih otak kita untuk memetakan solusi ketika suatu masalah datang. Itu bedanya orang sukses dengan orang tidak sukses. Pengalaman.

Benar juga, di kantor rasanya saya tidak pernah menggunakan rumus yang pernah saya pelajari di bangku S1. Tapi saya tahu bagaimana caranya menyampaikan pendapat di depan orang banyak. Atau bagaimana mencari solusi terbaik pada pekerjaan saya. Itu semua kebanyakan saya dapatkan dari sekolah. Karena sekolah itu bukan hanya sekedar menghafal. Sekolah itu adalah interaksi, salah satu faktor terpenting dalam hidup.

Dan kalau misalnya saya membutuhkan sesuatu yang tidak bisa saya ingat, selalu ada internet. Selalu ada Wikipedia. Dan
selalu ada Google Search Engine. Jadi, jika Anda masuk ke situs google.com dan memasukkan 'two ounces in grams', Anda akan segera tahu bahwa 2 ons itu kurang lebih sama dengan 560 gram.

Tuesday, October 9, 2007

Empat hari dari sekarang, saya akan terbang ke Paris untuk mengunjungi ayah saya yang sedang bekerja disana. Saya yakin pasti akan seru, karena sekaligus merayakan Lebaran. Dan kalau dilihat dari tabiat ayah saya, perayaan Lebaran yang paling mungkin kita akan lakukan adalah dengan menyantap steak dan wine merah, ditutup dengan bir dingin. Khas Bapak Alex Supelli.

Setiap sebelum berangkat bepergian, termasuk kalau saya pergi ke tempat pacar saya di Belanda, saya selalu berusaha cermat. Semua barang-barang bawaan saya hampar di meja, disusun satu persatu berdasarkan lokasi penyimpanan. Di koper, di saku celana, di jaket, atau di backpack. Mungkin saya sedikit mengidap obsessive compulsive disorder, seperti Monica Geller dalam serial Friends. Pacar saya malah pernah bilang kalau saya melipat baju lebih rapi darinya (maksudnya wanita). Tapi tak mengapa, karena menurut saya persiapan itu penting. Saya mencoba menghindari kejadian yang paling tidak diinginkan oleh kebanyakan pelancong. Dimana ketika sudah berada di ketinggian 10,000 kaki di atas tanah, kemudian menyadari kalau memory card kamera masih tertancap di laptop. Konyol.

Sekali lagi, persiapan itu penting. Makanya rata-rata orang tua menyuruh anaknya untuk sekolah setinggi mungkin. "Demi persiapan untuk masa depan", gitu katanya. Sebenarnya sih saya agak kurang setuju, karena menurut saya sekolah itu process of living, bukan preparation for future living.
Tapi ya itulah, semua orang berusaha untuk mempersiapkan segalanya sebaik mungkin sebelum hari H tiba. Terlalu banyak contoh sehingga saya tidak akan menjabarkannya disini. Yang jelas, kita semua tidak ingin menyesali kegagalan hanya karena kurangnya persiapan.

Itu juga makanya saya membeli external hardisk untuk laptop saya. Karena saya tidak ingin data penting saya hilang jika suatu saat (mudah-mudahan tidak) laptop saya crash. Harddisk ini juga bentuk persiapan. Saya jadi teringat oleh laptop ayah saya yang juga dilanda crash. Buat dia tidak masalah, karena sama seperti saya, sudah ada back-up. Tinggal format ulang, semua beres. Kerusakan seperti tidak pernah terjadi.

Sayangnya hidup kita ini tidak demikian. Hidup hanya sekali jalan, dan tidak bisa diformat ulang di tengah-tengah. 'Waktu' adalah variabel yang bertambah terus, tidak bisa dikembalikan ke nilai awal. Probabilitasnya nol. Jika gagal, yang ada hanya penyesalan. Makanya, persiapkan segalanya dengan baik. Yes..?

Monday, October 8, 2007

Setiap saya berkunjung ke tempat pacar saya di Diemen, saya selalu menanti-nanti balapan Formula 1 di televisi. Bukan hanya karena di rumah saya tidak ada televisi sehingga saya tidak bisa menyaksikannya langsung dari Hamburg, tetapi juga karena saya termasuk fans berat Formula 1. Namun di suatu Minggu pagi, ketika sedang asyik bergumul dengan F1 di depan televisi, si Bacum, teman baik pacar saya yang kebetulan juga berada disana, ikut berkomentar. 'Wah, gua sih kalo nonton F1 ngantuk, ngebosenin', atau kira-kira begitulah. Saya yang mendengarnya tidak bisa protes, karena menurut saya ini adalah masalah selera.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Mungkin menurut Bacum, F1 hanya sekedar mobil yang melaju bolak balik landasan pacu. Monoton. Membosankan. Menurut sudut pandang saya, F1 penuh dengan intrik dan strategi, lengkap dengan mobil balap yang didukung dengan teknologi paling maju di muka bumi ini. Faktor kemenangan pun hanya ditentukan oleh satu per ratusan detik. F1 itu seru. Dinamis. Namun, beda sudut pandang saya dan si Bacum membuat saya tidak bisa memaksakan pendapat. Mungkin untuknya yang seru itu adalah sepakbola, permainan yang penuh dengan aksi individual yang memukau dan kerjasama tim yang apik. Tapi bagi sebagian orang, sepakbola hanyalah olahraga dimana satu bola ditendang bolak balik lapangan.

Sudut pandang memang membuat suatu hal bisa berbeda 180 derajat. Benar atau salah. Besar atau kecil. Monoton atau dinamis. Seru atau bikin ngantuk. Malah terkadang ini bisa memicu konflik. Makanya sering kita lihat pada layar kaca adanya demonstrasi di depan gedung kedutaan, misalnya. Atau celoteh George Bush yang ngotot bahwa perang di Irak adalah 'satu-satunya solusi' untuk mencegah terorisme. Mungkin politik tidak usah dibahas disini, nanti bisa tidak ada habisnya. Yang jelas, selalu ada dua kubu yang berada dalam dua sudut pandang berbeda.

Memang terkadang hidup itu sulit. Tidak lagi mudah seperti hidup seorang anak kecil, dimana semua terasa seperti dunia Teletubbies. Diisi hanya dengan bermain dan berpelukan. Setelah dewasa, si anak malah harus memihak antara ayah dan ibunya di kala perkawinan mereka sudah diujung tanduk. Si anak berada di daerah abu-abu. Dia mengerti penjelasan logis ayahnya mengapa mereka tidak lagi bisa bersama, namun juga ikut merasakan penderitaan ibunya. Jika si anak ditanya layaknya tagline film Transformers, choose your side, dia mungkin hanya bisa angkat bahu. Karena dia tahu, tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Dan jika si anak balik bertanya, apa jalan keluarnya, jawaban yang mungkin ia dapat adalah bahwa: perceraian adalah 'satu-satunya solusi'. Persis seperti George Bush.

Mungkin salah satu jalan adalah dengan komunikasi. Karena dengan komunikasi, dua sudut pandang bisa menjadi satu. Konflik tidak perlu terjadi. Siapa tau saya akan mendapat kesempatan untuk membahas dengan Bacum mengapa saya suka F1, dan mengapa dia tidak. Sehingga mungkin, hanya mungkin, di suatu Minggu pagi lainnya, saya dan Bacum bisa menikmati laju kencang mobil Ferrari melalui layar kaca. Tentu saja dengan ditemani secangkir kopi susu, dan sebungkus Marlboro.

Atau mungkin si ayah dan si ibu tadi, bisa duduk bersama dan mulai bicara. Karena ini memang bukan masalah benar atau salah. Hanya masalah perbedaan sudut pandang, dan bagaimana mereka menjembataninya.