Saturday, December 8, 2007

Orang bilang jenis laba-laba ini bernama Daddy Longlegs. Mungkin karena kakinya yang kelewat panjang bila dibandingkan dengan tubuhnya yang mungil. Menurut Wikipedia, habitat hewan ini tersebar hampir di seluruh dunia. Artinya, hewan ini bisa ditemukan dimana-mana. Termasuk di rumah Anda. Santapannya serangga kecil. Dan kalau diganggu, dia akan menggetarkan sarangnya. Menurut para ahli, ini bertujuan untuk membingungkan pemangsa. Dan konon katanya, laba-laba ini sangat beracun. Namun mitos ini sudah dibuktikan tidak benar oleh seorang pria berkumis tebal. Bisa dilihat di salah satu episode Mythbusters.

Saya sudah tinggal di tiga rumah yang berbeda selama 3 tahun ini, satu di Indonesia dan dua di Jerman. Lucunya, persis seperti apa yang
Wikipedia katakan, si Daddy Longlegs selalu ada. Tepatnya di kamar mandi. Kamar mandi selalu menjadi tempat dimana saya melamun dan berpikir. Mencari inspirasi, kalau ingin pakai istilah yang lebih beken. Dan Daddy Longlegs ini selalu terlihat di pojok ruangan, seolah menemani lamunan saya; tidak peduli di negara mana saya berada. Bentuknya lucu, terlihat rapuh sekali. Nampak kikuk dengan kakinya yang panjang. Sering juga saya ganggu. Kalau begitu, spontan dia menggetarkan sarangnya. Untuk membuat saya bingung, begitu kata para ahli. Saya sih biasanya malah tersenyum, kapan lagi duduk di toilet dan dihibur dengan tarian laba-laba. Senang sekali melihat mereka. Makanya, waktu di Bandung, laba-laba ini suka saya beri nama.

Pagi ini, saya menemukan kembali si
Daddy Longlegs di pojok kamar mandi apartemen saya yang baru. Kali ini tidak saya beri nama, karena tidak gampang mencari nama Jerman untuk seekor laba-laba. Tapi si Daddy Longlegs ini sama, kembali menemani lamunan saya di kamar mandi. Terdiam di pojok ruangan, sambil sesekali bergerak merajut sarangnya. Sama lucunya dengan yang saya temukan di Indonesia. Masih rapuh. Masih kikuk dengan kakinya yang panjang. Dan masih menari jika diganggu.

Saya menikmati sekali kehadiran teman kecil ini, sehingga saya selalu berhati-hati untuk tidak menginjaknya atau menjerumuskannya ke lubang toilet dengan menekan tombol flush. Buat saya, hewan kecil seperti Daddy Longlegs punya arti sendiri. Menghibur. Karena dia seolah ingin memberi tahu. Bahwa hal sekecil apapun bisa memberi dampak yang berarti. Benar-benar pembentuk mood. Setidaknya untuk hari ini. Setidaknya untuk saya.

Tapi saya yakin, bahwa kamar mandi memang tempat untuk membangkitkan mood. Tempat untuk membuka pikiran. Karena memang benar apa yang dikatakan oleh
Alicia Keys. Katanya, "If I want to be alone, some place I can write, I can read, I can cry, I can do whatever I want - I go to the bathroom". Apa saja, loh ya. Whatever I want, gitu katanya. Siapa tau, mungkin juga bagi Alicia Keys, kamar mandi adalah tempat untuk bermain bersama laba-laba. Si makhluk mungil berkaki panjang. Pembentuk mood di pagi hari. Si Daddy Longlegs.

Sunday, December 2, 2007

Saya rasa kita semua pernah mengalami ini. Apa yang salah ya?

Saturday, December 1, 2007

Pernah perhatikan bedanya loneliness dan solitude? Dua hal yang sangat berbeda tipis. Ibarat membedakan peach dan nectarine. Untuk kedua buah itu bisa dilihat di website ini, karena tidak akan saya bahas lebih lanjut. Yang jelas, pertanyaan semacam ini bisa dengan mudah ditemukan melalui search engine di internet. Contohnya, Google menyediakan 11.600.00 webpage mengenai loneliness, dan 18.600.000 untuk solitude. Aneh. Nampak yang kedua lebih populer, padahal awalnya saya mengira loneliness itu lebih umum.

Nggak
perlu saya cari terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia lah ya. Karena toh saya yakin pasti tidak akan tersedia. Yang membuat saya tertarik justru perbedaan makna diantara keduanya. Didorong oleh rasa penasaran, lagi-lagi si search engine tercinta membawa saya ke suatu halaman. Kali ini halaman kepunyaan seorang psikolog. Katanya begini:

"Loneliness is marked by a sense of isolation. Solitude, on the other hand, is a state of being alone without being lonely and can lead to self-awareness."

Self-awareness. Alone. But without being lonely. Wah. Dahsyat. Tapi sangat masuk akal. Berada dalam kesendirian, mau tidak mau, membawa kita ke state of self-awareness yang lebih tinggi. Memberikan kita kesempatan untuk berpikir. Berpikir yang didasarkan pada diri sendiri. Berpikir apa saja. Mengenai hidup, masa depan, atau masa lalu. Kalau boleh juga mengenai masalah percintaan.

Saya pun begitu, kehidupan di Hamburg membawa saya ke satu titik dimana saya mulai berpikir untuk hal-hal yang lebih luas. Dulu di Bandung, mana sempat. Makanya
posting saya di bulan November kosong melompong layaknya padang di Afrika. Karena memang bulan itu sebagian besar saya habiskan di tanah air. Tidak pernah ada kesempatan untuk menyendiri. Tidak pernah ada kesempatan untuk merenung. Tidak pernah ada kesempatan untuk duduk sendirian di depan laptop, ditemani oleh secangkir kopi, dan mulai untuk menulis. Alasannya sederhana sekali. Karena di Bandung saya merasa nyaman. The comfort zone.

Namun mungkin kita semua harus diberikan sedikit ketidaknyamanan. Hanya untuk merasakan bagian kecil dari
bitterness dalam hidup. Seperti sekarang ini, saya sudah kembali. Di kota Hamburg yang dingin, baik cuaca maupun orang-orang di dalamnya. Kembali pada rutinitas yang itu-itu saja. Dengan sedikit sekali hiburan, apalagi teman-teman. Pahit. Membuat saya tidak nyaman. Uncomfort zone, kalau memang ada istilah itu.

Tapi zona tidak nyaman ini bukan berarti saya harus menderita. Disinilah terasa bedanya
loneliness dan solitude. Karena disini saya bukan menangisi nasib. Bukan juga bersedih karena tidak berada di tempat yang saya sukai. Disini saya belajar, untuk bisa lebih memahami diri sendiri. Untuk menjadi lebih peka. Untuk memiliki self awareness yang lebih tinggi.

Hamburg adalah tempat dimana saya merasa sendiri. Namun tanpa harus merasa kesepian
. Kalau dalam bahasa yang lebih keren: This is the real place of my solitude.

Tuesday, November 20, 2007

Wednesday, October 31, 2007

Dari seluruh penduduk Hamburg, mungkin hanya saya yang paling sering berpergian ke Amsterdam. Sudah hampir satu tahun lho saya bolak balik Hamburg-Amsterdam, waktu yang cukup lama untuk mengetahui seluk beluk perjalanan 7 jam ini. Ini terbukti berguna, setiap ada teman saya yang ingin berpergian ke Belanda, saya selalu menjadi orang pertama yang mereka tanyakan. Mungkin saya sudah dianggap sebagai ahli yang sudah setaraf dengan agen perjalanan di Hamburg, karena saya sarat akan pengalaman. Pertanyaannya sendiri sih selalu sama, 'Transportasi apa yang paling murah untuk mencapai Amsterdam?'. Dan jawaban saya pun pasti selalu sama, 'Gunakanlah selalu bus Eurolines'.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Jangankan mahal atau murah, saking seringnya saya ke Amsterdam menggunakan Eurolines, saya juga bisa menjawab jika orang bertanya dimana tempat pemberhentian yang menyediakan kopi murah dan enak. Dan dimana tempat yang menyediakan cappuccino yang terasa seperti air keran. Atau dimana restoran yang pelayannya sangat ramah. Mana yang galak. Saya pun bisa menjawab jika ditanya kapan kita sebaiknya tidur. Dan kapan sebaiknya tidak, karena sewaktu-waktu bisa ada petugas perbatasan masuk ke dalam bus untuk menanyakan paspor. Saya pun bisa menjawab dengan persis, dari titik A sampai ke kota B membutuhkan waktu berapa lama, misalnya. Malah, kalau ingin lebih ekstrim, saya bisa tahu persis kapan si supir bus salah mengambil jalan, sambil berkata dalam hati bahwa kita semua akan segera kesasar.

Tapi bukan hanya pengetahuan tentang cappuccino hambar yang saya dapatkan dalam perjalanan Hamburg-Amsterdam. Saya juga sempat merasakan menunggu bus selama 4 jam di tengah-tengah cuaca sedingin es. Atau menyaksikan bapak-bapak berlari sambil memegang celana dan melambaikan tangan di belakang bus, karena dia ditinggal ketika sedang buang air. Saya juga sempat melihat seseorang dibawa dan dimasukan paksa ke dalam mobil patroli polisi perbatasan, karena yang bersangkutan tidak membawa paspor (meski saya berpendapat bahwa dia sebenarnya adalah buronan polisi). Dan saya pun pernah terbangun dengan dua kaki besar sedang nangkring persis di depan hidung saya. Si empunya kaki sedang asyik tertidur terlentang di samping saya. Sedangkan si kaki diletakan dimana kenyamanannya bisa didapatkan secara optimal. Di hidung saya. Ampun dah.

Namun, hal yang paling menarik buat saya adalah bagaimana seluruh penumpang di dalam bus adalah orang asing bagi satu sama lain. Semua memiliki latar belakang yang berbeda. Lucu sekali kalau tiba-tiba disapa oleh orang yang benar-benar tidak kita kenal. Kadang-kadang memang tidak nyambung, mungkin juga karena kita tidak merasa nyaman dengan orang tersebut. Contohnya, saya malas kalau harus memulai percakapan dengan orang ngasih kakinya ke muka saya. Tapi kadang-kadang memang banyak yang bisa dibicarakan. Dan kita punya 7 jam untuk saling mengenal.

Terakhir perjalanan saya menuju Amsterdam, saya berbicara panjang lebar dengan seseorang yang bercita-cita menjadi sutradara. Dia mengoceh sana sini tentang bagaimana dia sangat kagum dengan film Hollywood. Dia juga bercerita tentang bagaimana rencana dia membuat film independennya sendiri. Dan seketika itu juga saya merasa sangat mengenal orang ini. Setidaknya bagi saya dia bukan lagi salah satu wajah tanpa nama. Setelah 7 jam, saya melihat dia sebagai orang ambisius yang cinta dengan seni perfilman. Dan saya juga tahu, bahwa wajah ini mempunyai nama. Andreas, 27 tahun.

Terkadang saya melihat bus ini sebagai media. Ajang interaksi untuk saling mengenal satu sama lain. Dalam perjalanan saya ke Hamburg dua hari lalu, saya menyaksikan sendiri. Seorang wanita bertanya sopan kepada salah satu lelaki di dalam bis yang duduk persis di depan saya. Katanya, 'Is this place free?'. Dan dijawab dengan anggukan. Mereka pun duduk bersebelahan dan mulai saling bicara. Tujuh jam kemudian, mereka turun dari bis bersama-sama. Melewati rintikan hujan di Hamburg sambil berpegangan tangan, sesekali berpelukan. Mereka saling mengenal satu sama lain. Dari total stranger menjadi lovers, mengapa tidak? Yang dibutuhkan hanyalah media, dan interaksi.

Mungkin juga tulisan ini bisa menjadi salah satu media. Bisa menjadi perantara komunikasi. Mungkin dari tulisan yang saya post di blog ini, ada yang bisa mengenal saya. Atau yah, setidaknya mendapatkan informasi mengenai Eurolines. Bagaimanapun, ini adalah bentuk interaksi. Mungkin ada yang penasaran dengan harga tiket ke Amsterdam, atau ingin tahu bagaimana caranya mendapatkan diskon 25%? Silakan bertanya. Dan siapa tahu, dari orang yang benar-benar asing, kita bisa menjadi teman baik. Kirim e-mail deh ya?

Thursday, October 25, 2007

4:51 AM

Disini saya terdiam di depan laptop. Tertunduk beralaskan kasur, dengan selimut tebal menghangatkan kaki. Segelas wine putih. Dan sebatang rokok. Menunggu fajar datang menyingsing, untuk kembali mengurangi jatah hari saya. Kemudian saya mulai berpikir akan esok hari. Sambil bertanya dalam hati, kemana ia akan membawa saya?

Terbangun sejenak saya dari lamunan, ketika sebuah tangan datang memeluk. Si cantik sedang tertidur lelap di samping. Bernafas pelan dengan teratur. Membiarkan kantuk membawanya perlahan ke alam mimpi.

Hmmm..

Esok hari. Masa depan.
Mimpi. Cita-cita.

Ya, masa depan dan cita-cita. Hal yang selama bertahun-tahun ini saya siapkan agar mereka berdua dapat bertemu di satu titik. Benar-benar bertemu. Ibarat dua garis yang membentuk satu titik pada perpotongannya. Pararel saja tidak cukup, tidak peduli berapa dekat keduanya. Saya butuh titik potong.

Sampai saat ini, nampaknya saya sudah berada pada garis yang benar. Berharap akan bertemu dengan garis yang lainnya. Semoga. Tapi entah mengapa, esok hari masih saja tampak kabur. Seolah kapan saja semua bisa berubah. Seolah sangat sulit digapai. Hingga seringkali saya mentok dengan pertanyaan, what if I fail? Selalu menjadi bahan pikiran. Akankah kedua garis ini bertemu?

Mungkin memang saya seharusnya menganut prinsip 'let it flow'. Biarkan semua berjalan apa adanya. Tanpa target. Tanpa mimpi dan cita-cita. Let the destiny guide me. Terlihat jauh lebih mudah. Sehingga tidak perlu menjadi beban.

Tapi saya adalah orang yang tidak percaya pada nasib, atau bakat. Saya orang yang percaya pada determinasi dan kerja keras. Sedikit keberuntungan, mungkin. Namun jelas, bukan nasib. Saya yakin, kerja keras akan membawa seseorang ke sesuatu tempat yang layak. Tidak peduli apapun output-nya.

Atau apakah benarkah begitu? Jangan-jangan masa depan ini ternyata sudah ditentukan. Dikategorikan sebagai dua kelompok besar. Beruntung. Tidak beruntung. Memang belum bisa saya buktikan. Tapi apalah salahnya untuk punya sedikit keyakinan. Bahwa hard work suatu saat akan berbuahkan hasil.

Dan sambil menghisap batang rokok terakhir, saya pun memutuskan untuk tidak akan terganggu dengan what if I fail. Karena mungkin bukan itu intinya. Mungkin sebenarnya, proses dalam meraih mimpilah yang justru menjadi penting.


5:26 AM

Masih saya tertunduk di kasur. Dengan dua puntung rokok yang tinggal menyisakan abu dan sedikit asap. Saya habiskan tegukan terakhir wine murah ini, seraya menarik selimut sampai ke ujung badan.

Setelah ini, saya akan memberi kecupan kecil di kening pacar saya yang sampai sekarang masih tertidur lelap di samping. Berusaha mengucapkan selamat tidur tanpa harus membangunkannya. Kemudian saya akan menutup mata. Kali ini membiarkan kantuk yang membawa saya ke alam mimpi.

Dan saya akan terus bermimpi. Kalau bisa tanpa pernah ada batas. Karena buat saya mimpi itu penting. Demi motivasi. Demi determinasi. Makanya orang sering bilang. Dreams are the ones that keep a man alive.

Friday, October 19, 2007

Belakangan ini saya jadi gemar memasak. Mungkin karena di apartemen yang baru ini saya lebih leluasa untuk mendapatkan akses ke bumbu masak khas Indonesia. Impian akan menjadi koki hebat sekaliber Jamie Oliver nampak sudah di depan mata. Karena saya pikir, dengan sejuta bumbu ini, masak apapun pasti akan jadi enak. Eksperimen pertama pun dimulai. Saya memasukkan berbagai macam bumbu ke dalam panci, beserta daging yang saya baru beli di supermarket. Tumis sebentar, lalu dihidangkan. Kemudian saya coba makan. Begitu makanan masuk mulut, otak saya spontan memberi perintah 'Muntah! Muntah!'. Rasanya seperti menyantap taplak meja diberi garam. Super luar biasa tidak enak. Saya pun akhirnya menghabiskan makanan tadi, dengan air mata mengalir deras di pipi. Apa boleh buat. Impian Jamie Oliver buyar seketika. Nasib.

Saya orangnya memang tidak jago kalau hal masak memasak. Kayanya cuman saya yang bisa membuat ayam goreng bisa terasa seperti sendal jepit. Entah mengapa, memang feel-nya saya tidak punya. Mau bagaimana lagi? Saya tidak peka soal memberi bumbu. Saya bahkan tidak tahu kapan harus mengangkat ayam yang sedang digoreng. Pokoknya. Masak. Ngga bisa.

Makanya, kalau harus masak, saya pasti konsultasi terlebih dahulu dengan dua orang terdekat saya yang pandai memasak. Ibu saya dan pacar saya. Ibu saya memang jago sekali memasak, dan tentu rasanya selalu pas dengan lidah saya. Kalau Chaki, pacar saya, punya kekuatan untuk mengubah apapun benda yang ada di lemari es menjadi hidangan lezat. Ngga tau deh bagaimana caranya. Bahkan mungkin hanya dia yang bisa membuat sendal jepit jadi terasa seperti ayam goreng.

Dan sampailah pada suatu hari dimana keinginan masak saya sedang menggebu-gebu. Berdasarkan pengalaman buruk sebelumnya, saya putuskan untuk konsultasi dulu dengan ibu tercinta. Berbagai pertanyaan mengenai macam-macam masakan pun keluar. Dan anehnya buat saya, apapun makanan yang saya tanyakan, ibu saya selalu memulai dengan kalimat 'Tumis bawang merah bawang putih sampe layu dan harum'. Selalu. Saking seringnya, malah tidak jarang disingkat menjadi BM dan BP. BM untuk Bawang Merah, dan BP untuk Bawang Putih. Kadang-kadang, malah keluar singkatan BB untuk Bawang Bombay. Dan BH untuk Breast Holder.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Karena penasaran, akhirnya saya tanya juga. Kenapa selalu muncul si bawang merah bawang putih ini? Ibu saya menjawab, 'Ih, kamu teh gimana sih. Bawang merah sama bawang putih mah harus selalu ada atuh'. Terlihat jelas kalau saya adalah orang Sunda asli. Teh, mah dan atuh harus senantiasa dilibatkan ke dalam percakapan. Namun selain menyadari fakta bahwa saya adalah asli keturunan Sunda, saya juga berhadapan dengan fakta bahwa bawang merah bawang putih adalah esensi untuk kebanyakan masakan Indonesia. Saya manggut-manggut saja, tanda mengerti.

Keesokan harinya, dengan semangat saya pergi ke supermarket untuk membeli si BB dan si BM. Dan saya beli luar biasa banyak. Kayanya cukup banyak untuk membuat satu lusin vampir tobat dan membaca kalimat syahadat. Ngga apa-apa, saya pikir. Biar sekalian.

Dan setelah dicoba ternyata memang benar, saya harus mengakui bahwa kelompok siung-siungan ini membawa aroma khas dan memberi rasa nikmat. Tentu masih harus diberi sedikit sentuhan sana sini untuk mencapai rasa yang diinginkan, tapi memang esensinya berada di bawang merah dan bawang putih. Racikan dasar. Dan juga benar bahwa si bawang-bawang ini harus selalu ada di setiap masakan. Karena disinilah intinya, tidak peduli masakan apa yang kita siapkan. Bawang merah bawang putih harus menjadi bagian. Biar masakan saya jadi enak. Tidak lagi terasa seperti sendal jepit.

Rasanya juga di dalam diri kita, bawang merah bawang putih harus selalu ada. Saya percaya bahwa dalam setiap hal yang kita lakukan, pasti berangkat dari racikan dasar. Karena kalau racikannya sudah tepat, tindakan kita akan mengarah pada kesuksesan. Tanpa kecuali. Tidak peduli apapun jenisnya. Mirip sekali seperti bawang pada masakan. Dulu, ayah saya pernah memberi contoh seorang Darwis Triadi. Katanya, kalau orang memang sudah memiliki dasar yang bagus, apapun yang dilakukan pasti akan menjadi bagus pula. Meski harus membanting profesi dari seorang pilot menjadi fotografer. Tidak masalah, karena racikannya sudah tepat.

Setiap orang memiliki bawang putih dan bawang merah mereka sendiri, tergantung bagaimana memandangnya. Ada yang bilang kerja keras. Ada juga yang bilang bakat. Ada yang bilang latar belakang pendidikan. Juga ada yang bilang motivasi. Tapi untuk saya pribadi, racikan dasar adalah kebahagian. Enjoyment. Happiness. Karena saya yakin, seperti yang pacar saya sering bilang, 'Everything you make will be wonderful if you give a little bit of heart into it'. Memang benar. Jika kita mengerjakan dari hati, hasilnya pasti memuaskan. Karena kita menikmati proses, bukan sekedar mengejar hasil akhir. Salah satu teman saya di Belanda pun begitu, menghabiskan berhari-hari non-stop hanya untuk mendesain logo guna keperluan sekolah. Saya tanya, 'Kok niat amat sih? Sampai semua detail dipikirin matang-matang'. Jawabnya simple sekali. 'Abis gue suka sih'. Terlihat jelas. Ada enjoyment.

Teringat sebuah quote yang sudah lama sekali saya temukan, tapi entah mengapa sampai sekarang masih saja menempel di kepala. Katanya, success is not the key to happiness. Happiness is the key to success. If you love what you are doing, you will be successful. Nah ini dia, bawang merah bawang putih dalam hidup. Racikan yang sederhana, tapi esensial. Setuju?


*Photo courtesy of Jimfiz [http://jimfiz.deviantart.com]