Tuesday, November 20, 2007

Wednesday, October 31, 2007

Dari seluruh penduduk Hamburg, mungkin hanya saya yang paling sering berpergian ke Amsterdam. Sudah hampir satu tahun lho saya bolak balik Hamburg-Amsterdam, waktu yang cukup lama untuk mengetahui seluk beluk perjalanan 7 jam ini. Ini terbukti berguna, setiap ada teman saya yang ingin berpergian ke Belanda, saya selalu menjadi orang pertama yang mereka tanyakan. Mungkin saya sudah dianggap sebagai ahli yang sudah setaraf dengan agen perjalanan di Hamburg, karena saya sarat akan pengalaman. Pertanyaannya sendiri sih selalu sama, 'Transportasi apa yang paling murah untuk mencapai Amsterdam?'. Dan jawaban saya pun pasti selalu sama, 'Gunakanlah selalu bus Eurolines'.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Jangankan mahal atau murah, saking seringnya saya ke Amsterdam menggunakan Eurolines, saya juga bisa menjawab jika orang bertanya dimana tempat pemberhentian yang menyediakan kopi murah dan enak. Dan dimana tempat yang menyediakan cappuccino yang terasa seperti air keran. Atau dimana restoran yang pelayannya sangat ramah. Mana yang galak. Saya pun bisa menjawab jika ditanya kapan kita sebaiknya tidur. Dan kapan sebaiknya tidak, karena sewaktu-waktu bisa ada petugas perbatasan masuk ke dalam bus untuk menanyakan paspor. Saya pun bisa menjawab dengan persis, dari titik A sampai ke kota B membutuhkan waktu berapa lama, misalnya. Malah, kalau ingin lebih ekstrim, saya bisa tahu persis kapan si supir bus salah mengambil jalan, sambil berkata dalam hati bahwa kita semua akan segera kesasar.

Tapi bukan hanya pengetahuan tentang cappuccino hambar yang saya dapatkan dalam perjalanan Hamburg-Amsterdam. Saya juga sempat merasakan menunggu bus selama 4 jam di tengah-tengah cuaca sedingin es. Atau menyaksikan bapak-bapak berlari sambil memegang celana dan melambaikan tangan di belakang bus, karena dia ditinggal ketika sedang buang air. Saya juga sempat melihat seseorang dibawa dan dimasukan paksa ke dalam mobil patroli polisi perbatasan, karena yang bersangkutan tidak membawa paspor (meski saya berpendapat bahwa dia sebenarnya adalah buronan polisi). Dan saya pun pernah terbangun dengan dua kaki besar sedang nangkring persis di depan hidung saya. Si empunya kaki sedang asyik tertidur terlentang di samping saya. Sedangkan si kaki diletakan dimana kenyamanannya bisa didapatkan secara optimal. Di hidung saya. Ampun dah.

Namun, hal yang paling menarik buat saya adalah bagaimana seluruh penumpang di dalam bus adalah orang asing bagi satu sama lain. Semua memiliki latar belakang yang berbeda. Lucu sekali kalau tiba-tiba disapa oleh orang yang benar-benar tidak kita kenal. Kadang-kadang memang tidak nyambung, mungkin juga karena kita tidak merasa nyaman dengan orang tersebut. Contohnya, saya malas kalau harus memulai percakapan dengan orang ngasih kakinya ke muka saya. Tapi kadang-kadang memang banyak yang bisa dibicarakan. Dan kita punya 7 jam untuk saling mengenal.

Terakhir perjalanan saya menuju Amsterdam, saya berbicara panjang lebar dengan seseorang yang bercita-cita menjadi sutradara. Dia mengoceh sana sini tentang bagaimana dia sangat kagum dengan film Hollywood. Dia juga bercerita tentang bagaimana rencana dia membuat film independennya sendiri. Dan seketika itu juga saya merasa sangat mengenal orang ini. Setidaknya bagi saya dia bukan lagi salah satu wajah tanpa nama. Setelah 7 jam, saya melihat dia sebagai orang ambisius yang cinta dengan seni perfilman. Dan saya juga tahu, bahwa wajah ini mempunyai nama. Andreas, 27 tahun.

Terkadang saya melihat bus ini sebagai media. Ajang interaksi untuk saling mengenal satu sama lain. Dalam perjalanan saya ke Hamburg dua hari lalu, saya menyaksikan sendiri. Seorang wanita bertanya sopan kepada salah satu lelaki di dalam bis yang duduk persis di depan saya. Katanya, 'Is this place free?'. Dan dijawab dengan anggukan. Mereka pun duduk bersebelahan dan mulai saling bicara. Tujuh jam kemudian, mereka turun dari bis bersama-sama. Melewati rintikan hujan di Hamburg sambil berpegangan tangan, sesekali berpelukan. Mereka saling mengenal satu sama lain. Dari total stranger menjadi lovers, mengapa tidak? Yang dibutuhkan hanyalah media, dan interaksi.

Mungkin juga tulisan ini bisa menjadi salah satu media. Bisa menjadi perantara komunikasi. Mungkin dari tulisan yang saya post di blog ini, ada yang bisa mengenal saya. Atau yah, setidaknya mendapatkan informasi mengenai Eurolines. Bagaimanapun, ini adalah bentuk interaksi. Mungkin ada yang penasaran dengan harga tiket ke Amsterdam, atau ingin tahu bagaimana caranya mendapatkan diskon 25%? Silakan bertanya. Dan siapa tahu, dari orang yang benar-benar asing, kita bisa menjadi teman baik. Kirim e-mail deh ya?

Thursday, October 25, 2007

4:51 AM

Disini saya terdiam di depan laptop. Tertunduk beralaskan kasur, dengan selimut tebal menghangatkan kaki. Segelas wine putih. Dan sebatang rokok. Menunggu fajar datang menyingsing, untuk kembali mengurangi jatah hari saya. Kemudian saya mulai berpikir akan esok hari. Sambil bertanya dalam hati, kemana ia akan membawa saya?

Terbangun sejenak saya dari lamunan, ketika sebuah tangan datang memeluk. Si cantik sedang tertidur lelap di samping. Bernafas pelan dengan teratur. Membiarkan kantuk membawanya perlahan ke alam mimpi.

Hmmm..

Esok hari. Masa depan.
Mimpi. Cita-cita.

Ya, masa depan dan cita-cita. Hal yang selama bertahun-tahun ini saya siapkan agar mereka berdua dapat bertemu di satu titik. Benar-benar bertemu. Ibarat dua garis yang membentuk satu titik pada perpotongannya. Pararel saja tidak cukup, tidak peduli berapa dekat keduanya. Saya butuh titik potong.

Sampai saat ini, nampaknya saya sudah berada pada garis yang benar. Berharap akan bertemu dengan garis yang lainnya. Semoga. Tapi entah mengapa, esok hari masih saja tampak kabur. Seolah kapan saja semua bisa berubah. Seolah sangat sulit digapai. Hingga seringkali saya mentok dengan pertanyaan, what if I fail? Selalu menjadi bahan pikiran. Akankah kedua garis ini bertemu?

Mungkin memang saya seharusnya menganut prinsip 'let it flow'. Biarkan semua berjalan apa adanya. Tanpa target. Tanpa mimpi dan cita-cita. Let the destiny guide me. Terlihat jauh lebih mudah. Sehingga tidak perlu menjadi beban.

Tapi saya adalah orang yang tidak percaya pada nasib, atau bakat. Saya orang yang percaya pada determinasi dan kerja keras. Sedikit keberuntungan, mungkin. Namun jelas, bukan nasib. Saya yakin, kerja keras akan membawa seseorang ke sesuatu tempat yang layak. Tidak peduli apapun output-nya.

Atau apakah benarkah begitu? Jangan-jangan masa depan ini ternyata sudah ditentukan. Dikategorikan sebagai dua kelompok besar. Beruntung. Tidak beruntung. Memang belum bisa saya buktikan. Tapi apalah salahnya untuk punya sedikit keyakinan. Bahwa hard work suatu saat akan berbuahkan hasil.

Dan sambil menghisap batang rokok terakhir, saya pun memutuskan untuk tidak akan terganggu dengan what if I fail. Karena mungkin bukan itu intinya. Mungkin sebenarnya, proses dalam meraih mimpilah yang justru menjadi penting.


5:26 AM

Masih saya tertunduk di kasur. Dengan dua puntung rokok yang tinggal menyisakan abu dan sedikit asap. Saya habiskan tegukan terakhir wine murah ini, seraya menarik selimut sampai ke ujung badan.

Setelah ini, saya akan memberi kecupan kecil di kening pacar saya yang sampai sekarang masih tertidur lelap di samping. Berusaha mengucapkan selamat tidur tanpa harus membangunkannya. Kemudian saya akan menutup mata. Kali ini membiarkan kantuk yang membawa saya ke alam mimpi.

Dan saya akan terus bermimpi. Kalau bisa tanpa pernah ada batas. Karena buat saya mimpi itu penting. Demi motivasi. Demi determinasi. Makanya orang sering bilang. Dreams are the ones that keep a man alive.

Friday, October 19, 2007

Belakangan ini saya jadi gemar memasak. Mungkin karena di apartemen yang baru ini saya lebih leluasa untuk mendapatkan akses ke bumbu masak khas Indonesia. Impian akan menjadi koki hebat sekaliber Jamie Oliver nampak sudah di depan mata. Karena saya pikir, dengan sejuta bumbu ini, masak apapun pasti akan jadi enak. Eksperimen pertama pun dimulai. Saya memasukkan berbagai macam bumbu ke dalam panci, beserta daging yang saya baru beli di supermarket. Tumis sebentar, lalu dihidangkan. Kemudian saya coba makan. Begitu makanan masuk mulut, otak saya spontan memberi perintah 'Muntah! Muntah!'. Rasanya seperti menyantap taplak meja diberi garam. Super luar biasa tidak enak. Saya pun akhirnya menghabiskan makanan tadi, dengan air mata mengalir deras di pipi. Apa boleh buat. Impian Jamie Oliver buyar seketika. Nasib.

Saya orangnya memang tidak jago kalau hal masak memasak. Kayanya cuman saya yang bisa membuat ayam goreng bisa terasa seperti sendal jepit. Entah mengapa, memang feel-nya saya tidak punya. Mau bagaimana lagi? Saya tidak peka soal memberi bumbu. Saya bahkan tidak tahu kapan harus mengangkat ayam yang sedang digoreng. Pokoknya. Masak. Ngga bisa.

Makanya, kalau harus masak, saya pasti konsultasi terlebih dahulu dengan dua orang terdekat saya yang pandai memasak. Ibu saya dan pacar saya. Ibu saya memang jago sekali memasak, dan tentu rasanya selalu pas dengan lidah saya. Kalau Chaki, pacar saya, punya kekuatan untuk mengubah apapun benda yang ada di lemari es menjadi hidangan lezat. Ngga tau deh bagaimana caranya. Bahkan mungkin hanya dia yang bisa membuat sendal jepit jadi terasa seperti ayam goreng.

Dan sampailah pada suatu hari dimana keinginan masak saya sedang menggebu-gebu. Berdasarkan pengalaman buruk sebelumnya, saya putuskan untuk konsultasi dulu dengan ibu tercinta. Berbagai pertanyaan mengenai macam-macam masakan pun keluar. Dan anehnya buat saya, apapun makanan yang saya tanyakan, ibu saya selalu memulai dengan kalimat 'Tumis bawang merah bawang putih sampe layu dan harum'. Selalu. Saking seringnya, malah tidak jarang disingkat menjadi BM dan BP. BM untuk Bawang Merah, dan BP untuk Bawang Putih. Kadang-kadang, malah keluar singkatan BB untuk Bawang Bombay. Dan BH untuk Breast Holder.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Karena penasaran, akhirnya saya tanya juga. Kenapa selalu muncul si bawang merah bawang putih ini? Ibu saya menjawab, 'Ih, kamu teh gimana sih. Bawang merah sama bawang putih mah harus selalu ada atuh'. Terlihat jelas kalau saya adalah orang Sunda asli. Teh, mah dan atuh harus senantiasa dilibatkan ke dalam percakapan. Namun selain menyadari fakta bahwa saya adalah asli keturunan Sunda, saya juga berhadapan dengan fakta bahwa bawang merah bawang putih adalah esensi untuk kebanyakan masakan Indonesia. Saya manggut-manggut saja, tanda mengerti.

Keesokan harinya, dengan semangat saya pergi ke supermarket untuk membeli si BB dan si BM. Dan saya beli luar biasa banyak. Kayanya cukup banyak untuk membuat satu lusin vampir tobat dan membaca kalimat syahadat. Ngga apa-apa, saya pikir. Biar sekalian.

Dan setelah dicoba ternyata memang benar, saya harus mengakui bahwa kelompok siung-siungan ini membawa aroma khas dan memberi rasa nikmat. Tentu masih harus diberi sedikit sentuhan sana sini untuk mencapai rasa yang diinginkan, tapi memang esensinya berada di bawang merah dan bawang putih. Racikan dasar. Dan juga benar bahwa si bawang-bawang ini harus selalu ada di setiap masakan. Karena disinilah intinya, tidak peduli masakan apa yang kita siapkan. Bawang merah bawang putih harus menjadi bagian. Biar masakan saya jadi enak. Tidak lagi terasa seperti sendal jepit.

Rasanya juga di dalam diri kita, bawang merah bawang putih harus selalu ada. Saya percaya bahwa dalam setiap hal yang kita lakukan, pasti berangkat dari racikan dasar. Karena kalau racikannya sudah tepat, tindakan kita akan mengarah pada kesuksesan. Tanpa kecuali. Tidak peduli apapun jenisnya. Mirip sekali seperti bawang pada masakan. Dulu, ayah saya pernah memberi contoh seorang Darwis Triadi. Katanya, kalau orang memang sudah memiliki dasar yang bagus, apapun yang dilakukan pasti akan menjadi bagus pula. Meski harus membanting profesi dari seorang pilot menjadi fotografer. Tidak masalah, karena racikannya sudah tepat.

Setiap orang memiliki bawang putih dan bawang merah mereka sendiri, tergantung bagaimana memandangnya. Ada yang bilang kerja keras. Ada juga yang bilang bakat. Ada yang bilang latar belakang pendidikan. Juga ada yang bilang motivasi. Tapi untuk saya pribadi, racikan dasar adalah kebahagian. Enjoyment. Happiness. Karena saya yakin, seperti yang pacar saya sering bilang, 'Everything you make will be wonderful if you give a little bit of heart into it'. Memang benar. Jika kita mengerjakan dari hati, hasilnya pasti memuaskan. Karena kita menikmati proses, bukan sekedar mengejar hasil akhir. Salah satu teman saya di Belanda pun begitu, menghabiskan berhari-hari non-stop hanya untuk mendesain logo guna keperluan sekolah. Saya tanya, 'Kok niat amat sih? Sampai semua detail dipikirin matang-matang'. Jawabnya simple sekali. 'Abis gue suka sih'. Terlihat jelas. Ada enjoyment.

Teringat sebuah quote yang sudah lama sekali saya temukan, tapi entah mengapa sampai sekarang masih saja menempel di kepala. Katanya, success is not the key to happiness. Happiness is the key to success. If you love what you are doing, you will be successful. Nah ini dia, bawang merah bawang putih dalam hidup. Racikan yang sederhana, tapi esensial. Setuju?


*Photo courtesy of Jimfiz [http://jimfiz.deviantart.com]

Thursday, October 18, 2007

Kalau harus berurusan dengan hal-hal yang berbau IT, level otak saya tidak ada bedanya dengan level otak seekor kera. Tiba-tiba jadi bego. Karena buat saya, hal yang satu ini terlampau rumit. Saya cenderung untuk memilih berperan sebagai pemakai saja. Malas rasanya kalau harus berurusan dengan algoritme atau markup language (apapun itu artinya). Saya cukup menjadi user setia. Toh, orang yang bisa menyetir mobil memang tidak perlu sampai harus mengerti seluk beluk mesin. Atau bahkan sampai membuat mobil sendiri. Iya kan?

Dodolnya adalah ketika saya ingin coba-coba membuat layout baru untuk blog ini. Niatnya sih sudah bagus, biar belajar sekalian membuat tampilan blog ini jadi lebih nendang gituloh. Terdengar asyik aja. Saya pun memulai dengan mengambil template dari Gecko&Fly, berharap ini akan seperti membeli makanan beku dari supermarket. Tinggal masuk microwave, beres.

Ternyata kenyataan berkata lain, layout yang muncul membuat saya cukup mengerenyutkan alis. Karena memang tidak seperti yang saya harapkan. Saya sedikit kecewa. Lantas, saya pun berniat untuk mengedit si template. Tidak lama kemudian saya masuk ke editor Blogspot, dan dihadapkan pada satu set bahasa pemrogaman. Seketika, layar monitor saya langsung penuh dengan kode-kode ajaib. Saya langsung bengong, layaknya gorila disodorkan iPod.

Namun pada akhirnya tidak seburuk dugaan saya. Tiga jam kemudian (ditambah keringat dan air mata), saya mulai mengerti prinsip dasarnya. Dan satu jam kemudian, saya pun mulai menikmatinya. Benar-benar tidak seburuk yang saya bayangkan. Meskipun memang, ada beberapa yang bikin saya gemes karena berulang kali diedit tetap saja tidak membuahkan hasil. Kalau sudah begitu, saya tinggal tarik nafas dalam-dalam. Dan sedikit menenangkan diri sambil bergumam kalau saya ini masih pada kategori amatir.

Mungkin jabatan otak kera bisa saya tinggalkan sejenak. Setidaknya untuk masalah mengedit blog kecil-kecilan. Ternyata tidak begitu sulit. Atau mungkin malah dia dunia ini sebenarnya tidak ada hal yang benar-benar sulit. Karena menurut saya, semua pasti ada dasarnya. Semuanya punya prinsip kerja. Setelah itu, hanya sekedar logika dan proses belajar. Sama dengan orang yang menyetir mobil tadi. Kalau ia juga mengerti prinsip mesin bekerja, bukan mustahil dia bisa membuka kap mesin dan mulai bekerja. Ya, setidaknya bisa untuk tune up mesin kecil-kecilan.

Tuesday, October 16, 2007

Berjalan menyusuri kota Paris membawa saya ke suatu tempat yang tidak asing lagi bentuk dan rupanya. Trocadero. Sebuah teras besar yang menghadap langsung ke salah satu ikon dunia. Dimana ikon ini berdiri dengan megahnya di tengah kepadatan kota Paris. Menjulang tinggi dan tampak gagah sekali. Kalau saja dia bisa bicara, saya yakin dia akan berkata, 'Saya Menara Eiffel. Dan kamu, sedang berada di Paris'.

Trocadero nampak persis seperti 10 tahun yang lalu, terakhir kali saya mengunjungi Paris. Tidak ada yang berubah. Masih tempat turis dimana orang berjalan berdesakan. Dimana terlihat orang berteriak dan bergumul untuk foto bersama. Dimana banyak orang berkulit gelap menghampar tikar dan berjualan. Kata orang ini khas Trocadero. Kata saya ini pelataran Monas. Tidak ada bedanya. Sesak. Dan saya orang yang paling benci dengan keramaian.

Saya pun berjalan ke ujung teras. Menyaksikan si Eiffel. Setelah dua kedip mata, saya membalikan badan. Entah mengapa, menurut saya sih biasa saja. Mungkin saya memang bukan peminat tempat-tempat wisata kali ya. Saya orang yang lebih menikmati duduk di pinggir cafe. Meneguk secangkir cappucino dan melihat orang lalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Saya lebih suka datang ke supermarket, belanja, kemudian pulang ke hotel menggunakan kereta bawah tanah. Saya lebih suka mencoba makanan-makanan yang mustahil saya temukan di tempat lain. Saya orang yang sangat menikmati kebudayaan.

Masih di Trocadero, mata saya tertuju pada sekumpulan orang. Telinga saya segera menyusul. Sekelompok orang berbaju putih sedang asyik memainkan berbagai jenis perkusi. Satu orang sibuk memberi komando. Dari label yang melekat pada alat perkusi, saya segera tahu bahwa mereka adalah komunitas musik dengan nama Muleketu. Mereka memainkan lagu dengan tempo cepat, diselingi dengan tarian dan putaran-putaran drumstick. Luar biasa indah. Ini dia, pikir saya. Budaya.

Sambil menikmati pukulan perkusi mereka, saya asyik sendiri dengan kamera. Melupakan kegagahan menara Eiffel yang masih menjulang tinggi di belakang saya, melihat punggung saya dari kejauhan. Saya sibuk memotret. Saya lupa akan dunia. Saya hanyut dalam harmonisasi samba. Dengan mata yang tidak lepas dari viewfinder kamera, saya pun berkata dalam hati. 'Nah, ini baru travelling'.

P.S: Foto-foto yang saya ambil bisa dilihat dibawah ini. Untuk melihat video Muleketu di youtube, silakan klik disini.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Monday, October 15, 2007

Pernah nonton film berjudul The Bourne Identity? Kalau pernah, pasti masih ingat bagaimana lihainya Jason Bourne mengelabui Alexander Conklin, kepala blackops dari Operasi Treadstone. Meskipun sudah cukup lama, saya masih ingat persis adegan dimana si Conklin berjalan ke sebuah jembatan, kemudian menghadap timur dan membuka jaketnya. Persis sesuai instruksi yang diberikan. Sementara itu, Jason Bourne mengintai Conklin dari atap sebuah bangunan. Teleskopnya tertuju tepat ke arah sebuah jembatan dimana Conklin berada. Nama jembatan itu Pont Neuf. Jembatan tua yang menghubungkan 3 daratan. Berlokasi di tengah-tengah kota mode dunia. Paris.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Hari kedua dari kunjungan singkat ke Paris, saya menyempatkan diri melihat langsung jembatan ini. Bagus, memang. Konon inilah jembatan tertua di kota Paris, mulai dibangun di tahun 1578. Kenapa namanya Pont Neuf (Jembatan Baru), ngga usah saya bahas disini lah ya. Silakan cari sendiri di Wikipedia.

Tapi buat saya jembatan tetaplah jembatan, tempat orang menyeberang. Sama seperti angkot tetaplah angkot, transportasi umum yang bikin macet Bandung. Namun jembatan ini sedikit menggugah hati, karena itu tadi. Bourne Identity. Saya hampir berpikir untuk menginjakkan kaki di jembatan itu. Mungkin sambil menghadap timur dan buka jaket. Mungkin juga divariasikan sedikit dengan menari poco-poco. Tapi niat itu saya urungkan, bukan karena saya tidak ingin dilihat iba oleh orang lewat, melainkan karena tidak jauh dari situ ada sesuatu yang lebih menggiurkan. Sebuah jalan panjang yang penuh dengan tempat yang sudah lama tidak pernah saya lihat. Tempat yang dinyatakan ilegal di beberapa negara Eropa. Penuh kontroversi. Ada yang mendukung. Ada juga yang bilang ini salah satu bentuk penyiksaan dan pelanggaran hak. Pet shop.

Iya, pet shop, toko dimana semua anak hewan tidak berdaya dikumpulkan di satu tempat. Saya girang bukan main, karena saya tahu di dalam sana ada berbagai jenis anak anjing dan kucing. Yang terpikir oleh saya hanya dua, usap-usap anak hewan dan memotret. Saya senang, karena saya yakin: foto anak kucing akan jauh lebih menarik daripada foto jembatan. Kecuali kalau di jembatan ada Jason Bourne lagi menari poco-poco.

Sempat terpikir bahwa memotret akan dilarang di dalam sana. Saya takut nanti malah diusir pakai sapu oleh sang empunya toko. Dengan penuh pertimbangan, jawaban diplomatis pun saya siapkan. Kalau sampai ditanya kenapa saya mengambil foto, saya akan bilang dengan pede, 'Istri saya di Belanda mau saya belikan anak kucing. Makanya harus saya foto, supaya dia bisa memilih mana yang bagus dan mana yang tidak'. Super ngibul. Dan kalau jawaban itu tidak memuaskan (atau yang bersangkutan tidak bisa bahasa Inggris), saya akan jalankan plan B: lari terbirit-birit keluar toko kaya anjing kampung.

Bermodalkan dua strategi matang tersebut, saya pun melenggang masuk toko penuh percaya diri.

Sesuai perkiraan. Anak hewan tidak berdaya dikumpulkan di satu tempat. Lucu. Menggemaskan. Kamera saya pun bekerja. Dan ketakutan saya akan sepak terjang sapu pun hilang, karena si penjaga toko malah tersenyum melihat saya dengan kamera. Untung. Berikut adalah foto-foto yang berhasil saya jepret. Harga untuk setiap hewan juga saya cantumkan, lumayan untuk sekedar geleng-geleng kepala.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Kucing siam, masih kecil. Lucu sekali. Harga 1,650 euro.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Labrador kecil. Harga 850 euro.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Dua Jack Russel rebutan jilatin tangan. Jari saya dikira sumber susu. Masing-masing 600 euro.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Dua kucing tertidur pulas. Masing-masing 650 euro. Yang beginian sih di Bandung juga banyak, tinggal ngambil di got depan rumah. Gratis.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Kawanan Jack Russel, juga sedang tertidur pulas. Di sampingnya ada mainan. Dasar bayi.


Namun ternyata, tidak semua anjing dan kucing ini lucu dan menggemaskan. Sebagian berkelakuan diluar wajar. Sempat terpikir oleh saya, jangan-jangan tempat ini adalah sirkus. Atau lebih parah, ternyata saya masuk ke rumah sakit jiwa untuk binatang berkaki empat. Berikut foto-fotonya.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Labrador ketiduran dengan posisi super sangat aneh. Saya sarankan untuk tidak diadopsi. Tipe seperti ini bisa tidur dimana saja, termasuk tidur ketika dibawa jalan-jalan. Repot.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Ini saya ngga ngerti kenapa dia harus bikin posisi seperti ini. Mungkin bawaannya memang banci kamera. Pilihan yang cocok untuk para fotografer.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Ini salah satu contoh anjing stress. Sangat berkeinginan untuk keluar kandang, sehingga giginya nempel di teralis. Tidak cocok untuk disimpan di halaman rumah. Bisa bikin pagar jebol.


Namun dari seluruh keanehan, tidak ada yang lebih aneh dari salah satu kucing yang dijual disana. Kucing ini tertangkap basah sedang menimbang berat badan! Atau setidaknya begitulah yang terlintas di kepala saya ketika melihat dia, karena si kucing ini memang agak gendut.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Ini dia. Tertangkap basah lagi seru inspeksi lemak perut.


Si kucing gendut asyik sekali melihat ke bawah, persis seperti orang sedang menimbang badannya di kamar mandi. Lama sekali. Saya sampai garuk-garuk kepala, sambil berkata dalam hati, 'Ini kucing kenapa sih?'. Setelah beberapa jepret foto, saya memutuskan untuk mendekatkan diri ke si kucing.

Kemudian, seperti merasa sedang diperhatikan, si kucing menolehkan kepalanya dan memandang langsung ke mata saya. Dia terlihat kaget dan langsung melotot, seolah tersirat pesan, 'Mampus, ketauan deh gue bisa berdiri. Jangan-jangan dia juga tau kalau gue suka makan pake garpu dan doyan nonton serial 24'. Saya pun sama saja, tetap melotot ke arah si kucing, berharap dia melakukan sesuatu yang lebih ajaib, misalnya garuk-garuk pantat atau tiba-tiba gosok gigi. Meskipun saya sadar, begitu si kucing mengambil sikat gigi, saya pasti langsung jatuh pingsan.

Kita pun saling berpandangan, sama-sama bengong. Pernah merasakan suatu saat dimana seluruh waktu terasa berhenti, dan seluruh dunia pun turut berhenti berputar? Inilah saat-saat itu. Kejadian paling aneh dalam hidup saya. Bertukar pandang dengan kucing yang berdiri dengan dua kaki. Untungnya saya bawa kamera. Saya memutuskan untuk berhenti bengong dan mulai memotret si kucing.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


Namun setelah beberapa lama, akhirnya si kucing duduk juga dan langsung meringkuk. Sementara saya masih bengong. Saking bengongnya sampai saya tidak sempat melihat harga si kucing. Dan setelah saya mengusap-usap beberapa anak anjing untuk berpisah, saya pun pergi keluar toko. Sesekali menengok ke belakang, untuk memeriksa apakah si kucing tadi sedang menatap saya. Ternyata tidak. Untungnya tidak!

Memang menyenangkan sekali berhubungan dengan anjing dan kucing. Mereka telah hidup berdampingan dengan manusia untuk entah berapa ratus tahun lamanya. Teman hidup. Dan bagi Anda yang butuh kehangatan dan kasih sayang, atau sekedar teman cerita di kala sepi, saya sarankan untuk memelihara anjing atau kucing. Mereka bisa menjadi teman baik, yang memberi kasih sayang sepenuhnya. Dan semua orang tentu butuh kasih sayang. Semua orang. Tidak terkecuali agen CIA yang ahli bela diri dan tidak kenal ampun. Tidak terkecuali Jason Bourne.

Kalau saya seandainya bisa bertemu Jason Bourne di Pont Neuf, mungkin saya akan ajak dia untuk mampir sebentar ke pet shop tadi. Saya akan suruh dia untuk ambil satu. Karena disana banyak sekali hewan kecil yang butuh rumah untuk tinggal, setidaknya tempat yang layak untuk pup. Bukan di kotak kaca yang sempit dan penuh sesak.

Keluar dari toko, saya pun menengok sebentar ke arah jembatan tadi, seolah mengucapkan selamat tinggal. Kemudian dengan kamera yang masih setia menemani di genggaman tangan, saya kembali meneruskan perjalanan. Kali ini menuju Notre Dame.