Friday, December 14, 2007

Thursday, December 13, 2007

Namanya Nadya Anindita Supelli. Anak bungsu dari tiga bersaudara. Adik kecil saya. Umur 18 tahun. Tinggal di Bandung. Dan kami terpisah ribuan kilometer (11,525 km lebih tepatnya). Orang bilang dia ini termasuk kategori orang lemot. Maksudnya, agak lambat dalam memproses informasi. Di kala semua orang sedang asyik bercerita, Nadya terkadang masuk ke tengah percakapan dengan pertanyaan sederhana. 'Maksudnya?' atau 'Kok gitu ya?'. Pertanyaan yang sederhana, tapi lumayan bikin garuk-garuk kepala. Terutama bagi si pencerita. Itulah mengapa, saya berusaha menahan diri untuk menceritakan lelucon kepadanya. Kata orang jaman sekarang, takut ngga nyambung. Bahkan, saking stressnya, adik sepupu saya pernah sekali berkomentar. 'Nas, otak lu itu Pentium berapa sih?'. Khas guyonan anak muda. Dan kalau perlu ditambahkan, saya rasa otaknya setara dengan microprocessor Intel pada awal kesuksesannya. Si Pentium seri 486.

Gelagat lemot Nadya Supelli selalu mengundang tawa bagi saya. Dalam obrolan, selalu ada saja hal yang bisa ditertawakan. Tidak terkecuali dalam 'obrolan jarak jauh'. Sekarang lebih dikenal dengan online chatting atau instant messaging. Hari ini, saya berkesempatan untuk kembali chatting dengan adik saya. Cukup membuat saya tertawa geli. Meski terkadang malah gigit jari.

Saya putuskan untuk membuat posting berdasarkan hasil percakapan ini. Berikut sepenggal kutipan dari perbincangan kita. Beberapa kata sengaja ditambahkan atau dihilangkan demi kejelasan akademisi.

nadyasupelli : tau ga, kak? waktu itu aku ditanya sama dosen gini
kemalsupelli : gimana?
nadyasupelli : "menurut saudara, apakah saudara setuju dengan demokrasi sebagai cara untuk mencapai tujuan politik nasional dan juga sebagai cara untuk menyikapi lunturnya nasionalisme terhadap globalisasi?"
kemalsupelli : anjrit.. mampus.. terus lu jawab apa?
nadyasupelli : aku jawabnya gini
nadyasupelli : "kalo saya sih, ngga pake cara demokrasi juga ngga apa2, yang penting tujuan nasional tercapai.. terus untuk menyikapi globalisasi, saya rasa engga ada hubungannya sama demokrasi"

Nah lo, hebat amat adik saya berbicara. Demokrasi tidak penting. Yang penting tujuan nasional tercapai. Persis omongan Jusuf Kalla, si wakil presiden kita. Dia juga pernah berkomentar hal yang kurang lebih sama. Katanya, demokrasi bisa dinomorduakan di bawah tujuan utama peningkatan dan kesejahteraan rakyat. Ada-ada saja. Lengkapnya bisa dibaca disini.

Didorong oleh rasa penasaran, saya pun angkat bicara.
kemalsupelli : wahahaha.. parah lu, udah kaya jusuf kalla aja.. terus? dosennya bilang apa?
nadyasupelli : katanya, "jadi kamu setuju tidak dengan demokrasi?"

Mungkin si dosen merasa pertanyaan belum terjawab. Saya rasa juga belum, karena jawabannya tidak mengandung unsur setuju atau tidak setuju.

nadyasupelli : aku jawab, "netral"

Disinilah saya memberi komentar dengan ikon terkenal, yang sudah mahfum diterima oleh masyarakat dunia maya.

kemalsupelli : -_-
kemalsupelli : terus?
nadyasupelli : si dosen tetep nanya, "setuju apa tidak?"
nadyasupelli : aku jawab, "setuju2 aja sih.. tapi demo seringkali membuat masalah, jadi saya pikir demokrasi lebih berhubungan dengan kemacetan daripada globalisasi".

Perasaan saya langsung campur aduk seketika. Setelah diberikan pernyataan selevel dengan pernyataan wakil presiden, saya harus berhadapan dengan kenyataan mengejutkan. Bahwa demokratisasi menyebabkan kemacetan. Wah, ini luar biasa. Namun dalam hitungan detik, saya berhasil membawa persoalan ini ke tingkat logika yang bisa lebih diterima. Saya muncul dengan satu kata.

Demonstrasi.

Karena buat saya, lebih logis kalau demontrasilah yang membuat macet jalanan.

kemalsupelli : wahahahahahahahahahahha
kemalsupelli : kenapa jadi demonstrasi?
nadyasupelli : engga tau, aku pikir sama.. karena sama-sama DEMO
nadyasupelli : jadi demokrasi itu ya demonstrasi
nadyasupelli : pasti ada hubungannya lah
kemalsupelli : ngga ada!

Ya memang sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, ada sih hubungan antara demokrasi dan demonstrasi. Meskipun saya tidak medalami ilmu politik, tapi saya bisa lihat benang merahnya adalah 'kebebasan mengemukakan pendapat'. Tapi sejujurnya sih, saya kasihan sama si dosen. Karena memang jawabannya jadi tidak relevan. Yang ditanya hubungannya dengan globalisasi, lantas mengapa jadi kemacetan lalu lintas?

nadyasupelli : ada hubungannya!
kemalsupelli : ya iya! tapi bukan itu yang ditanya!
nadyasupelli : ADA HUBUNGANNYA!

Inilah sifat adik kecil saya yang kedua. Selain agak lemot, dia juga ngga mau kalah. Yah, setidaknya tidak kalah tanpa perjuangan terlebih dahulu. Sedangkan, lemot dan ngotot terkadang bukanlah kombinasi yang pas.

nadyasupelli : demonstrasi kan ya demo dong, ka
nadyasupelli : demokrasi = atas dasar kepentingan rakyat
nadyasupelli : rakyat bebas menyalurkan aspirasi
nadyasupelli : ya menyalurkan aspirasi = demonstrasi
nadyasupelli : jadi demokrasi = bikin macet

Maha dahsyat. Ini lebih canggih dari dosen Termodinamika saya ketika sedang menurunkan rumus untuk mendapat persamaan baru. Saya hanya bisa geleng-geleng, dan memutuskan untuk kembali menggunakan ikon yang maha terkenal itu.

kemalsupelli : -_-

Dan saya pun berkomentar

kemalsupelli : elu mah otaknya cuman memproses sebagian dari seluruh kata..
kemalsupelli : DEMOkrasi itu tidak sama dengan DEMOnstrasi
nadyasupelli : iya aku tau, tapi berhubungan!

Bagaimanapun, saya memutuskan untuk tidak berdebat lebih panjang lagi. Saya memilih untuk menarik nafas dan menanyakan kejadian pasca tragedi saja.

kemalsupelli : terus? dosennya gimana?
nadyasupelli : ya, semua anak di kelas pada ngeliatin aku

Untuk anak-anak kelas, saya rasa ini adalah respon yang wajar. Kalau saya juga berada di sana, saya pasti penasaran untuk melihat mahasiswa yang dengan suksesnya memojokkan dosen dengan memutarbalikan pertanyaan politik menjadi masalah lalu lintas.

nadyasupelli : terus dosennya cape kayanya, langsung ganti orang
kemalsupelli : wahahahahahahaha...

Sesuai dugaan, yang jadi korban itu adalah si dosen. Memang tidak mudah menjadi seorang dosen. Tabah ya, pak.

Dan akhirnya percakapan ditutup dengan:

nadyasupelli : sok, pasti mau ditulis di testimonial ya
kemalsupelli : engga... ini sih wajib masuk blog
nadyasupelli : KAKAK!
kemalsupelli : ga usah protes

Itulah. Saya senang sekali jail ke adik saya yang satu ini. Karena memang begitu kelakuannya, selalu mengundang tawa atau bikin saya geleng-geleng kepala. Mungkin juga ini naluri seorang kakak, berkewajiban untuk membuat hidup para adiknya sengsara. Tapi apapun itu, adik saya tidak pernah marah. Karena mungkin dia tahu, kalau saya hanya sekedar bercanda. Atau mungkin karena dia juga tahu, kalau sebenarnya saya sangat sayang sama dia. Tidak peduli siapa, atau apapun kelakuannya. Tidak peduli. Meski terkadang, otaknya sering disetarakan dengan Pentium 486.

Sunday, December 9, 2007

Saturday, December 8, 2007

Orang bilang jenis laba-laba ini bernama Daddy Longlegs. Mungkin karena kakinya yang kelewat panjang bila dibandingkan dengan tubuhnya yang mungil. Menurut Wikipedia, habitat hewan ini tersebar hampir di seluruh dunia. Artinya, hewan ini bisa ditemukan dimana-mana. Termasuk di rumah Anda. Santapannya serangga kecil. Dan kalau diganggu, dia akan menggetarkan sarangnya. Menurut para ahli, ini bertujuan untuk membingungkan pemangsa. Dan konon katanya, laba-laba ini sangat beracun. Namun mitos ini sudah dibuktikan tidak benar oleh seorang pria berkumis tebal. Bisa dilihat di salah satu episode Mythbusters.

Saya sudah tinggal di tiga rumah yang berbeda selama 3 tahun ini, satu di Indonesia dan dua di Jerman. Lucunya, persis seperti apa yang
Wikipedia katakan, si Daddy Longlegs selalu ada. Tepatnya di kamar mandi. Kamar mandi selalu menjadi tempat dimana saya melamun dan berpikir. Mencari inspirasi, kalau ingin pakai istilah yang lebih beken. Dan Daddy Longlegs ini selalu terlihat di pojok ruangan, seolah menemani lamunan saya; tidak peduli di negara mana saya berada. Bentuknya lucu, terlihat rapuh sekali. Nampak kikuk dengan kakinya yang panjang. Sering juga saya ganggu. Kalau begitu, spontan dia menggetarkan sarangnya. Untuk membuat saya bingung, begitu kata para ahli. Saya sih biasanya malah tersenyum, kapan lagi duduk di toilet dan dihibur dengan tarian laba-laba. Senang sekali melihat mereka. Makanya, waktu di Bandung, laba-laba ini suka saya beri nama.

Pagi ini, saya menemukan kembali si
Daddy Longlegs di pojok kamar mandi apartemen saya yang baru. Kali ini tidak saya beri nama, karena tidak gampang mencari nama Jerman untuk seekor laba-laba. Tapi si Daddy Longlegs ini sama, kembali menemani lamunan saya di kamar mandi. Terdiam di pojok ruangan, sambil sesekali bergerak merajut sarangnya. Sama lucunya dengan yang saya temukan di Indonesia. Masih rapuh. Masih kikuk dengan kakinya yang panjang. Dan masih menari jika diganggu.

Saya menikmati sekali kehadiran teman kecil ini, sehingga saya selalu berhati-hati untuk tidak menginjaknya atau menjerumuskannya ke lubang toilet dengan menekan tombol flush. Buat saya, hewan kecil seperti Daddy Longlegs punya arti sendiri. Menghibur. Karena dia seolah ingin memberi tahu. Bahwa hal sekecil apapun bisa memberi dampak yang berarti. Benar-benar pembentuk mood. Setidaknya untuk hari ini. Setidaknya untuk saya.

Tapi saya yakin, bahwa kamar mandi memang tempat untuk membangkitkan mood. Tempat untuk membuka pikiran. Karena memang benar apa yang dikatakan oleh
Alicia Keys. Katanya, "If I want to be alone, some place I can write, I can read, I can cry, I can do whatever I want - I go to the bathroom". Apa saja, loh ya. Whatever I want, gitu katanya. Siapa tau, mungkin juga bagi Alicia Keys, kamar mandi adalah tempat untuk bermain bersama laba-laba. Si makhluk mungil berkaki panjang. Pembentuk mood di pagi hari. Si Daddy Longlegs.

Sunday, December 2, 2007

Saya rasa kita semua pernah mengalami ini. Apa yang salah ya?

Saturday, December 1, 2007

Pernah perhatikan bedanya loneliness dan solitude? Dua hal yang sangat berbeda tipis. Ibarat membedakan peach dan nectarine. Untuk kedua buah itu bisa dilihat di website ini, karena tidak akan saya bahas lebih lanjut. Yang jelas, pertanyaan semacam ini bisa dengan mudah ditemukan melalui search engine di internet. Contohnya, Google menyediakan 11.600.00 webpage mengenai loneliness, dan 18.600.000 untuk solitude. Aneh. Nampak yang kedua lebih populer, padahal awalnya saya mengira loneliness itu lebih umum.

Nggak
perlu saya cari terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia lah ya. Karena toh saya yakin pasti tidak akan tersedia. Yang membuat saya tertarik justru perbedaan makna diantara keduanya. Didorong oleh rasa penasaran, lagi-lagi si search engine tercinta membawa saya ke suatu halaman. Kali ini halaman kepunyaan seorang psikolog. Katanya begini:

"Loneliness is marked by a sense of isolation. Solitude, on the other hand, is a state of being alone without being lonely and can lead to self-awareness."

Self-awareness. Alone. But without being lonely. Wah. Dahsyat. Tapi sangat masuk akal. Berada dalam kesendirian, mau tidak mau, membawa kita ke state of self-awareness yang lebih tinggi. Memberikan kita kesempatan untuk berpikir. Berpikir yang didasarkan pada diri sendiri. Berpikir apa saja. Mengenai hidup, masa depan, atau masa lalu. Kalau boleh juga mengenai masalah percintaan.

Saya pun begitu, kehidupan di Hamburg membawa saya ke satu titik dimana saya mulai berpikir untuk hal-hal yang lebih luas. Dulu di Bandung, mana sempat. Makanya
posting saya di bulan November kosong melompong layaknya padang di Afrika. Karena memang bulan itu sebagian besar saya habiskan di tanah air. Tidak pernah ada kesempatan untuk menyendiri. Tidak pernah ada kesempatan untuk merenung. Tidak pernah ada kesempatan untuk duduk sendirian di depan laptop, ditemani oleh secangkir kopi, dan mulai untuk menulis. Alasannya sederhana sekali. Karena di Bandung saya merasa nyaman. The comfort zone.

Namun mungkin kita semua harus diberikan sedikit ketidaknyamanan. Hanya untuk merasakan bagian kecil dari
bitterness dalam hidup. Seperti sekarang ini, saya sudah kembali. Di kota Hamburg yang dingin, baik cuaca maupun orang-orang di dalamnya. Kembali pada rutinitas yang itu-itu saja. Dengan sedikit sekali hiburan, apalagi teman-teman. Pahit. Membuat saya tidak nyaman. Uncomfort zone, kalau memang ada istilah itu.

Tapi zona tidak nyaman ini bukan berarti saya harus menderita. Disinilah terasa bedanya
loneliness dan solitude. Karena disini saya bukan menangisi nasib. Bukan juga bersedih karena tidak berada di tempat yang saya sukai. Disini saya belajar, untuk bisa lebih memahami diri sendiri. Untuk menjadi lebih peka. Untuk memiliki self awareness yang lebih tinggi.

Hamburg adalah tempat dimana saya merasa sendiri. Namun tanpa harus merasa kesepian
. Kalau dalam bahasa yang lebih keren: This is the real place of my solitude.

Tuesday, November 20, 2007

Wednesday, October 31, 2007

Dari seluruh penduduk Hamburg, mungkin hanya saya yang paling sering berpergian ke Amsterdam. Sudah hampir satu tahun lho saya bolak balik Hamburg-Amsterdam, waktu yang cukup lama untuk mengetahui seluk beluk perjalanan 7 jam ini. Ini terbukti berguna, setiap ada teman saya yang ingin berpergian ke Belanda, saya selalu menjadi orang pertama yang mereka tanyakan. Mungkin saya sudah dianggap sebagai ahli yang sudah setaraf dengan agen perjalanan di Hamburg, karena saya sarat akan pengalaman. Pertanyaannya sendiri sih selalu sama, 'Transportasi apa yang paling murah untuk mencapai Amsterdam?'. Dan jawaban saya pun pasti selalu sama, 'Gunakanlah selalu bus Eurolines'.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Jangankan mahal atau murah, saking seringnya saya ke Amsterdam menggunakan Eurolines, saya juga bisa menjawab jika orang bertanya dimana tempat pemberhentian yang menyediakan kopi murah dan enak. Dan dimana tempat yang menyediakan cappuccino yang terasa seperti air keran. Atau dimana restoran yang pelayannya sangat ramah. Mana yang galak. Saya pun bisa menjawab jika ditanya kapan kita sebaiknya tidur. Dan kapan sebaiknya tidak, karena sewaktu-waktu bisa ada petugas perbatasan masuk ke dalam bus untuk menanyakan paspor. Saya pun bisa menjawab dengan persis, dari titik A sampai ke kota B membutuhkan waktu berapa lama, misalnya. Malah, kalau ingin lebih ekstrim, saya bisa tahu persis kapan si supir bus salah mengambil jalan, sambil berkata dalam hati bahwa kita semua akan segera kesasar.

Tapi bukan hanya pengetahuan tentang cappuccino hambar yang saya dapatkan dalam perjalanan Hamburg-Amsterdam. Saya juga sempat merasakan menunggu bus selama 4 jam di tengah-tengah cuaca sedingin es. Atau menyaksikan bapak-bapak berlari sambil memegang celana dan melambaikan tangan di belakang bus, karena dia ditinggal ketika sedang buang air. Saya juga sempat melihat seseorang dibawa dan dimasukan paksa ke dalam mobil patroli polisi perbatasan, karena yang bersangkutan tidak membawa paspor (meski saya berpendapat bahwa dia sebenarnya adalah buronan polisi). Dan saya pun pernah terbangun dengan dua kaki besar sedang nangkring persis di depan hidung saya. Si empunya kaki sedang asyik tertidur terlentang di samping saya. Sedangkan si kaki diletakan dimana kenyamanannya bisa didapatkan secara optimal. Di hidung saya. Ampun dah.

Namun, hal yang paling menarik buat saya adalah bagaimana seluruh penumpang di dalam bus adalah orang asing bagi satu sama lain. Semua memiliki latar belakang yang berbeda. Lucu sekali kalau tiba-tiba disapa oleh orang yang benar-benar tidak kita kenal. Kadang-kadang memang tidak nyambung, mungkin juga karena kita tidak merasa nyaman dengan orang tersebut. Contohnya, saya malas kalau harus memulai percakapan dengan orang ngasih kakinya ke muka saya. Tapi kadang-kadang memang banyak yang bisa dibicarakan. Dan kita punya 7 jam untuk saling mengenal.

Terakhir perjalanan saya menuju Amsterdam, saya berbicara panjang lebar dengan seseorang yang bercita-cita menjadi sutradara. Dia mengoceh sana sini tentang bagaimana dia sangat kagum dengan film Hollywood. Dia juga bercerita tentang bagaimana rencana dia membuat film independennya sendiri. Dan seketika itu juga saya merasa sangat mengenal orang ini. Setidaknya bagi saya dia bukan lagi salah satu wajah tanpa nama. Setelah 7 jam, saya melihat dia sebagai orang ambisius yang cinta dengan seni perfilman. Dan saya juga tahu, bahwa wajah ini mempunyai nama. Andreas, 27 tahun.

Terkadang saya melihat bus ini sebagai media. Ajang interaksi untuk saling mengenal satu sama lain. Dalam perjalanan saya ke Hamburg dua hari lalu, saya menyaksikan sendiri. Seorang wanita bertanya sopan kepada salah satu lelaki di dalam bis yang duduk persis di depan saya. Katanya, 'Is this place free?'. Dan dijawab dengan anggukan. Mereka pun duduk bersebelahan dan mulai saling bicara. Tujuh jam kemudian, mereka turun dari bis bersama-sama. Melewati rintikan hujan di Hamburg sambil berpegangan tangan, sesekali berpelukan. Mereka saling mengenal satu sama lain. Dari total stranger menjadi lovers, mengapa tidak? Yang dibutuhkan hanyalah media, dan interaksi.

Mungkin juga tulisan ini bisa menjadi salah satu media. Bisa menjadi perantara komunikasi. Mungkin dari tulisan yang saya post di blog ini, ada yang bisa mengenal saya. Atau yah, setidaknya mendapatkan informasi mengenai Eurolines. Bagaimanapun, ini adalah bentuk interaksi. Mungkin ada yang penasaran dengan harga tiket ke Amsterdam, atau ingin tahu bagaimana caranya mendapatkan diskon 25%? Silakan bertanya. Dan siapa tahu, dari orang yang benar-benar asing, kita bisa menjadi teman baik. Kirim e-mail deh ya?

Thursday, October 25, 2007

4:51 AM

Disini saya terdiam di depan laptop. Tertunduk beralaskan kasur, dengan selimut tebal menghangatkan kaki. Segelas wine putih. Dan sebatang rokok. Menunggu fajar datang menyingsing, untuk kembali mengurangi jatah hari saya. Kemudian saya mulai berpikir akan esok hari. Sambil bertanya dalam hati, kemana ia akan membawa saya?

Terbangun sejenak saya dari lamunan, ketika sebuah tangan datang memeluk. Si cantik sedang tertidur lelap di samping. Bernafas pelan dengan teratur. Membiarkan kantuk membawanya perlahan ke alam mimpi.

Hmmm..

Esok hari. Masa depan.
Mimpi. Cita-cita.

Ya, masa depan dan cita-cita. Hal yang selama bertahun-tahun ini saya siapkan agar mereka berdua dapat bertemu di satu titik. Benar-benar bertemu. Ibarat dua garis yang membentuk satu titik pada perpotongannya. Pararel saja tidak cukup, tidak peduli berapa dekat keduanya. Saya butuh titik potong.

Sampai saat ini, nampaknya saya sudah berada pada garis yang benar. Berharap akan bertemu dengan garis yang lainnya. Semoga. Tapi entah mengapa, esok hari masih saja tampak kabur. Seolah kapan saja semua bisa berubah. Seolah sangat sulit digapai. Hingga seringkali saya mentok dengan pertanyaan, what if I fail? Selalu menjadi bahan pikiran. Akankah kedua garis ini bertemu?

Mungkin memang saya seharusnya menganut prinsip 'let it flow'. Biarkan semua berjalan apa adanya. Tanpa target. Tanpa mimpi dan cita-cita. Let the destiny guide me. Terlihat jauh lebih mudah. Sehingga tidak perlu menjadi beban.

Tapi saya adalah orang yang tidak percaya pada nasib, atau bakat. Saya orang yang percaya pada determinasi dan kerja keras. Sedikit keberuntungan, mungkin. Namun jelas, bukan nasib. Saya yakin, kerja keras akan membawa seseorang ke sesuatu tempat yang layak. Tidak peduli apapun output-nya.

Atau apakah benarkah begitu? Jangan-jangan masa depan ini ternyata sudah ditentukan. Dikategorikan sebagai dua kelompok besar. Beruntung. Tidak beruntung. Memang belum bisa saya buktikan. Tapi apalah salahnya untuk punya sedikit keyakinan. Bahwa hard work suatu saat akan berbuahkan hasil.

Dan sambil menghisap batang rokok terakhir, saya pun memutuskan untuk tidak akan terganggu dengan what if I fail. Karena mungkin bukan itu intinya. Mungkin sebenarnya, proses dalam meraih mimpilah yang justru menjadi penting.


5:26 AM

Masih saya tertunduk di kasur. Dengan dua puntung rokok yang tinggal menyisakan abu dan sedikit asap. Saya habiskan tegukan terakhir wine murah ini, seraya menarik selimut sampai ke ujung badan.

Setelah ini, saya akan memberi kecupan kecil di kening pacar saya yang sampai sekarang masih tertidur lelap di samping. Berusaha mengucapkan selamat tidur tanpa harus membangunkannya. Kemudian saya akan menutup mata. Kali ini membiarkan kantuk yang membawa saya ke alam mimpi.

Dan saya akan terus bermimpi. Kalau bisa tanpa pernah ada batas. Karena buat saya mimpi itu penting. Demi motivasi. Demi determinasi. Makanya orang sering bilang. Dreams are the ones that keep a man alive.

Friday, October 19, 2007

Belakangan ini saya jadi gemar memasak. Mungkin karena di apartemen yang baru ini saya lebih leluasa untuk mendapatkan akses ke bumbu masak khas Indonesia. Impian akan menjadi koki hebat sekaliber Jamie Oliver nampak sudah di depan mata. Karena saya pikir, dengan sejuta bumbu ini, masak apapun pasti akan jadi enak. Eksperimen pertama pun dimulai. Saya memasukkan berbagai macam bumbu ke dalam panci, beserta daging yang saya baru beli di supermarket. Tumis sebentar, lalu dihidangkan. Kemudian saya coba makan. Begitu makanan masuk mulut, otak saya spontan memberi perintah 'Muntah! Muntah!'. Rasanya seperti menyantap taplak meja diberi garam. Super luar biasa tidak enak. Saya pun akhirnya menghabiskan makanan tadi, dengan air mata mengalir deras di pipi. Apa boleh buat. Impian Jamie Oliver buyar seketika. Nasib.

Saya orangnya memang tidak jago kalau hal masak memasak. Kayanya cuman saya yang bisa membuat ayam goreng bisa terasa seperti sendal jepit. Entah mengapa, memang feel-nya saya tidak punya. Mau bagaimana lagi? Saya tidak peka soal memberi bumbu. Saya bahkan tidak tahu kapan harus mengangkat ayam yang sedang digoreng. Pokoknya. Masak. Ngga bisa.

Makanya, kalau harus masak, saya pasti konsultasi terlebih dahulu dengan dua orang terdekat saya yang pandai memasak. Ibu saya dan pacar saya. Ibu saya memang jago sekali memasak, dan tentu rasanya selalu pas dengan lidah saya. Kalau Chaki, pacar saya, punya kekuatan untuk mengubah apapun benda yang ada di lemari es menjadi hidangan lezat. Ngga tau deh bagaimana caranya. Bahkan mungkin hanya dia yang bisa membuat sendal jepit jadi terasa seperti ayam goreng.

Dan sampailah pada suatu hari dimana keinginan masak saya sedang menggebu-gebu. Berdasarkan pengalaman buruk sebelumnya, saya putuskan untuk konsultasi dulu dengan ibu tercinta. Berbagai pertanyaan mengenai macam-macam masakan pun keluar. Dan anehnya buat saya, apapun makanan yang saya tanyakan, ibu saya selalu memulai dengan kalimat 'Tumis bawang merah bawang putih sampe layu dan harum'. Selalu. Saking seringnya, malah tidak jarang disingkat menjadi BM dan BP. BM untuk Bawang Merah, dan BP untuk Bawang Putih. Kadang-kadang, malah keluar singkatan BB untuk Bawang Bombay. Dan BH untuk Breast Holder.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Karena penasaran, akhirnya saya tanya juga. Kenapa selalu muncul si bawang merah bawang putih ini? Ibu saya menjawab, 'Ih, kamu teh gimana sih. Bawang merah sama bawang putih mah harus selalu ada atuh'. Terlihat jelas kalau saya adalah orang Sunda asli. Teh, mah dan atuh harus senantiasa dilibatkan ke dalam percakapan. Namun selain menyadari fakta bahwa saya adalah asli keturunan Sunda, saya juga berhadapan dengan fakta bahwa bawang merah bawang putih adalah esensi untuk kebanyakan masakan Indonesia. Saya manggut-manggut saja, tanda mengerti.

Keesokan harinya, dengan semangat saya pergi ke supermarket untuk membeli si BB dan si BM. Dan saya beli luar biasa banyak. Kayanya cukup banyak untuk membuat satu lusin vampir tobat dan membaca kalimat syahadat. Ngga apa-apa, saya pikir. Biar sekalian.

Dan setelah dicoba ternyata memang benar, saya harus mengakui bahwa kelompok siung-siungan ini membawa aroma khas dan memberi rasa nikmat. Tentu masih harus diberi sedikit sentuhan sana sini untuk mencapai rasa yang diinginkan, tapi memang esensinya berada di bawang merah dan bawang putih. Racikan dasar. Dan juga benar bahwa si bawang-bawang ini harus selalu ada di setiap masakan. Karena disinilah intinya, tidak peduli masakan apa yang kita siapkan. Bawang merah bawang putih harus menjadi bagian. Biar masakan saya jadi enak. Tidak lagi terasa seperti sendal jepit.

Rasanya juga di dalam diri kita, bawang merah bawang putih harus selalu ada. Saya percaya bahwa dalam setiap hal yang kita lakukan, pasti berangkat dari racikan dasar. Karena kalau racikannya sudah tepat, tindakan kita akan mengarah pada kesuksesan. Tanpa kecuali. Tidak peduli apapun jenisnya. Mirip sekali seperti bawang pada masakan. Dulu, ayah saya pernah memberi contoh seorang Darwis Triadi. Katanya, kalau orang memang sudah memiliki dasar yang bagus, apapun yang dilakukan pasti akan menjadi bagus pula. Meski harus membanting profesi dari seorang pilot menjadi fotografer. Tidak masalah, karena racikannya sudah tepat.

Setiap orang memiliki bawang putih dan bawang merah mereka sendiri, tergantung bagaimana memandangnya. Ada yang bilang kerja keras. Ada juga yang bilang bakat. Ada yang bilang latar belakang pendidikan. Juga ada yang bilang motivasi. Tapi untuk saya pribadi, racikan dasar adalah kebahagian. Enjoyment. Happiness. Karena saya yakin, seperti yang pacar saya sering bilang, 'Everything you make will be wonderful if you give a little bit of heart into it'. Memang benar. Jika kita mengerjakan dari hati, hasilnya pasti memuaskan. Karena kita menikmati proses, bukan sekedar mengejar hasil akhir. Salah satu teman saya di Belanda pun begitu, menghabiskan berhari-hari non-stop hanya untuk mendesain logo guna keperluan sekolah. Saya tanya, 'Kok niat amat sih? Sampai semua detail dipikirin matang-matang'. Jawabnya simple sekali. 'Abis gue suka sih'. Terlihat jelas. Ada enjoyment.

Teringat sebuah quote yang sudah lama sekali saya temukan, tapi entah mengapa sampai sekarang masih saja menempel di kepala. Katanya, success is not the key to happiness. Happiness is the key to success. If you love what you are doing, you will be successful. Nah ini dia, bawang merah bawang putih dalam hidup. Racikan yang sederhana, tapi esensial. Setuju?


*Photo courtesy of Jimfiz [http://jimfiz.deviantart.com]

Thursday, October 18, 2007

Kalau harus berurusan dengan hal-hal yang berbau IT, level otak saya tidak ada bedanya dengan level otak seekor kera. Tiba-tiba jadi bego. Karena buat saya, hal yang satu ini terlampau rumit. Saya cenderung untuk memilih berperan sebagai pemakai saja. Malas rasanya kalau harus berurusan dengan algoritme atau markup language (apapun itu artinya). Saya cukup menjadi user setia. Toh, orang yang bisa menyetir mobil memang tidak perlu sampai harus mengerti seluk beluk mesin. Atau bahkan sampai membuat mobil sendiri. Iya kan?

Dodolnya adalah ketika saya ingin coba-coba membuat layout baru untuk blog ini. Niatnya sih sudah bagus, biar belajar sekalian membuat tampilan blog ini jadi lebih nendang gituloh. Terdengar asyik aja. Saya pun memulai dengan mengambil template dari Gecko&Fly, berharap ini akan seperti membeli makanan beku dari supermarket. Tinggal masuk microwave, beres.

Ternyata kenyataan berkata lain, layout yang muncul membuat saya cukup mengerenyutkan alis. Karena memang tidak seperti yang saya harapkan. Saya sedikit kecewa. Lantas, saya pun berniat untuk mengedit si template. Tidak lama kemudian saya masuk ke editor Blogspot, dan dihadapkan pada satu set bahasa pemrogaman. Seketika, layar monitor saya langsung penuh dengan kode-kode ajaib. Saya langsung bengong, layaknya gorila disodorkan iPod.

Namun pada akhirnya tidak seburuk dugaan saya. Tiga jam kemudian (ditambah keringat dan air mata), saya mulai mengerti prinsip dasarnya. Dan satu jam kemudian, saya pun mulai menikmatinya. Benar-benar tidak seburuk yang saya bayangkan. Meskipun memang, ada beberapa yang bikin saya gemes karena berulang kali diedit tetap saja tidak membuahkan hasil. Kalau sudah begitu, saya tinggal tarik nafas dalam-dalam. Dan sedikit menenangkan diri sambil bergumam kalau saya ini masih pada kategori amatir.

Mungkin jabatan otak kera bisa saya tinggalkan sejenak. Setidaknya untuk masalah mengedit blog kecil-kecilan. Ternyata tidak begitu sulit. Atau mungkin malah dia dunia ini sebenarnya tidak ada hal yang benar-benar sulit. Karena menurut saya, semua pasti ada dasarnya. Semuanya punya prinsip kerja. Setelah itu, hanya sekedar logika dan proses belajar. Sama dengan orang yang menyetir mobil tadi. Kalau ia juga mengerti prinsip mesin bekerja, bukan mustahil dia bisa membuka kap mesin dan mulai bekerja. Ya, setidaknya bisa untuk tune up mesin kecil-kecilan.

Tuesday, October 16, 2007

Berjalan menyusuri kota Paris membawa saya ke suatu tempat yang tidak asing lagi bentuk dan rupanya. Trocadero. Sebuah teras besar yang menghadap langsung ke salah satu ikon dunia. Dimana ikon ini berdiri dengan megahnya di tengah kepadatan kota Paris. Menjulang tinggi dan tampak gagah sekali. Kalau saja dia bisa bicara, saya yakin dia akan berkata, 'Saya Menara Eiffel. Dan kamu, sedang berada di Paris'.

Trocadero nampak persis seperti 10 tahun yang lalu, terakhir kali saya mengunjungi Paris. Tidak ada yang berubah. Masih tempat turis dimana orang berjalan berdesakan. Dimana terlihat orang berteriak dan bergumul untuk foto bersama. Dimana banyak orang berkulit gelap menghampar tikar dan berjualan. Kata orang ini khas Trocadero. Kata saya ini pelataran Monas. Tidak ada bedanya. Sesak. Dan saya orang yang paling benci dengan keramaian.

Saya pun berjalan ke ujung teras. Menyaksikan si Eiffel. Setelah dua kedip mata, saya membalikan badan. Entah mengapa, menurut saya sih biasa saja. Mungkin saya memang bukan peminat tempat-tempat wisata kali ya. Saya orang yang lebih menikmati duduk di pinggir cafe. Meneguk secangkir cappucino dan melihat orang lalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Saya lebih suka datang ke supermarket, belanja, kemudian pulang ke hotel menggunakan kereta bawah tanah. Saya lebih suka mencoba makanan-makanan yang mustahil saya temukan di tempat lain. Saya orang yang sangat menikmati kebudayaan.

Masih di Trocadero, mata saya tertuju pada sekumpulan orang. Telinga saya segera menyusul. Sekelompok orang berbaju putih sedang asyik memainkan berbagai jenis perkusi. Satu orang sibuk memberi komando. Dari label yang melekat pada alat perkusi, saya segera tahu bahwa mereka adalah komunitas musik dengan nama Muleketu. Mereka memainkan lagu dengan tempo cepat, diselingi dengan tarian dan putaran-putaran drumstick. Luar biasa indah. Ini dia, pikir saya. Budaya.

Sambil menikmati pukulan perkusi mereka, saya asyik sendiri dengan kamera. Melupakan kegagahan menara Eiffel yang masih menjulang tinggi di belakang saya, melihat punggung saya dari kejauhan. Saya sibuk memotret. Saya lupa akan dunia. Saya hanyut dalam harmonisasi samba. Dengan mata yang tidak lepas dari viewfinder kamera, saya pun berkata dalam hati. 'Nah, ini baru travelling'.

P.S: Foto-foto yang saya ambil bisa dilihat dibawah ini. Untuk melihat video Muleketu di youtube, silakan klik disini.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Monday, October 15, 2007

Pernah nonton film berjudul The Bourne Identity? Kalau pernah, pasti masih ingat bagaimana lihainya Jason Bourne mengelabui Alexander Conklin, kepala blackops dari Operasi Treadstone. Meskipun sudah cukup lama, saya masih ingat persis adegan dimana si Conklin berjalan ke sebuah jembatan, kemudian menghadap timur dan membuka jaketnya. Persis sesuai instruksi yang diberikan. Sementara itu, Jason Bourne mengintai Conklin dari atap sebuah bangunan. Teleskopnya tertuju tepat ke arah sebuah jembatan dimana Conklin berada. Nama jembatan itu Pont Neuf. Jembatan tua yang menghubungkan 3 daratan. Berlokasi di tengah-tengah kota mode dunia. Paris.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Hari kedua dari kunjungan singkat ke Paris, saya menyempatkan diri melihat langsung jembatan ini. Bagus, memang. Konon inilah jembatan tertua di kota Paris, mulai dibangun di tahun 1578. Kenapa namanya Pont Neuf (Jembatan Baru), ngga usah saya bahas disini lah ya. Silakan cari sendiri di Wikipedia.

Tapi buat saya jembatan tetaplah jembatan, tempat orang menyeberang. Sama seperti angkot tetaplah angkot, transportasi umum yang bikin macet Bandung. Namun jembatan ini sedikit menggugah hati, karena itu tadi. Bourne Identity. Saya hampir berpikir untuk menginjakkan kaki di jembatan itu. Mungkin sambil menghadap timur dan buka jaket. Mungkin juga divariasikan sedikit dengan menari poco-poco. Tapi niat itu saya urungkan, bukan karena saya tidak ingin dilihat iba oleh orang lewat, melainkan karena tidak jauh dari situ ada sesuatu yang lebih menggiurkan. Sebuah jalan panjang yang penuh dengan tempat yang sudah lama tidak pernah saya lihat. Tempat yang dinyatakan ilegal di beberapa negara Eropa. Penuh kontroversi. Ada yang mendukung. Ada juga yang bilang ini salah satu bentuk penyiksaan dan pelanggaran hak. Pet shop.

Iya, pet shop, toko dimana semua anak hewan tidak berdaya dikumpulkan di satu tempat. Saya girang bukan main, karena saya tahu di dalam sana ada berbagai jenis anak anjing dan kucing. Yang terpikir oleh saya hanya dua, usap-usap anak hewan dan memotret. Saya senang, karena saya yakin: foto anak kucing akan jauh lebih menarik daripada foto jembatan. Kecuali kalau di jembatan ada Jason Bourne lagi menari poco-poco.

Sempat terpikir bahwa memotret akan dilarang di dalam sana. Saya takut nanti malah diusir pakai sapu oleh sang empunya toko. Dengan penuh pertimbangan, jawaban diplomatis pun saya siapkan. Kalau sampai ditanya kenapa saya mengambil foto, saya akan bilang dengan pede, 'Istri saya di Belanda mau saya belikan anak kucing. Makanya harus saya foto, supaya dia bisa memilih mana yang bagus dan mana yang tidak'. Super ngibul. Dan kalau jawaban itu tidak memuaskan (atau yang bersangkutan tidak bisa bahasa Inggris), saya akan jalankan plan B: lari terbirit-birit keluar toko kaya anjing kampung.

Bermodalkan dua strategi matang tersebut, saya pun melenggang masuk toko penuh percaya diri.

Sesuai perkiraan. Anak hewan tidak berdaya dikumpulkan di satu tempat. Lucu. Menggemaskan. Kamera saya pun bekerja. Dan ketakutan saya akan sepak terjang sapu pun hilang, karena si penjaga toko malah tersenyum melihat saya dengan kamera. Untung. Berikut adalah foto-foto yang berhasil saya jepret. Harga untuk setiap hewan juga saya cantumkan, lumayan untuk sekedar geleng-geleng kepala.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Kucing siam, masih kecil. Lucu sekali. Harga 1,650 euro.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Labrador kecil. Harga 850 euro.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Dua Jack Russel rebutan jilatin tangan. Jari saya dikira sumber susu. Masing-masing 600 euro.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Dua kucing tertidur pulas. Masing-masing 650 euro. Yang beginian sih di Bandung juga banyak, tinggal ngambil di got depan rumah. Gratis.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Kawanan Jack Russel, juga sedang tertidur pulas. Di sampingnya ada mainan. Dasar bayi.


Namun ternyata, tidak semua anjing dan kucing ini lucu dan menggemaskan. Sebagian berkelakuan diluar wajar. Sempat terpikir oleh saya, jangan-jangan tempat ini adalah sirkus. Atau lebih parah, ternyata saya masuk ke rumah sakit jiwa untuk binatang berkaki empat. Berikut foto-fotonya.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Labrador ketiduran dengan posisi super sangat aneh. Saya sarankan untuk tidak diadopsi. Tipe seperti ini bisa tidur dimana saja, termasuk tidur ketika dibawa jalan-jalan. Repot.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Ini saya ngga ngerti kenapa dia harus bikin posisi seperti ini. Mungkin bawaannya memang banci kamera. Pilihan yang cocok untuk para fotografer.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Ini salah satu contoh anjing stress. Sangat berkeinginan untuk keluar kandang, sehingga giginya nempel di teralis. Tidak cocok untuk disimpan di halaman rumah. Bisa bikin pagar jebol.


Namun dari seluruh keanehan, tidak ada yang lebih aneh dari salah satu kucing yang dijual disana. Kucing ini tertangkap basah sedang menimbang berat badan! Atau setidaknya begitulah yang terlintas di kepala saya ketika melihat dia, karena si kucing ini memang agak gendut.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Ini dia. Tertangkap basah lagi seru inspeksi lemak perut.


Si kucing gendut asyik sekali melihat ke bawah, persis seperti orang sedang menimbang badannya di kamar mandi. Lama sekali. Saya sampai garuk-garuk kepala, sambil berkata dalam hati, 'Ini kucing kenapa sih?'. Setelah beberapa jepret foto, saya memutuskan untuk mendekatkan diri ke si kucing.

Kemudian, seperti merasa sedang diperhatikan, si kucing menolehkan kepalanya dan memandang langsung ke mata saya. Dia terlihat kaget dan langsung melotot, seolah tersirat pesan, 'Mampus, ketauan deh gue bisa berdiri. Jangan-jangan dia juga tau kalau gue suka makan pake garpu dan doyan nonton serial 24'. Saya pun sama saja, tetap melotot ke arah si kucing, berharap dia melakukan sesuatu yang lebih ajaib, misalnya garuk-garuk pantat atau tiba-tiba gosok gigi. Meskipun saya sadar, begitu si kucing mengambil sikat gigi, saya pasti langsung jatuh pingsan.

Kita pun saling berpandangan, sama-sama bengong. Pernah merasakan suatu saat dimana seluruh waktu terasa berhenti, dan seluruh dunia pun turut berhenti berputar? Inilah saat-saat itu. Kejadian paling aneh dalam hidup saya. Bertukar pandang dengan kucing yang berdiri dengan dua kaki. Untungnya saya bawa kamera. Saya memutuskan untuk berhenti bengong dan mulai memotret si kucing.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


Namun setelah beberapa lama, akhirnya si kucing duduk juga dan langsung meringkuk. Sementara saya masih bengong. Saking bengongnya sampai saya tidak sempat melihat harga si kucing. Dan setelah saya mengusap-usap beberapa anak anjing untuk berpisah, saya pun pergi keluar toko. Sesekali menengok ke belakang, untuk memeriksa apakah si kucing tadi sedang menatap saya. Ternyata tidak. Untungnya tidak!

Memang menyenangkan sekali berhubungan dengan anjing dan kucing. Mereka telah hidup berdampingan dengan manusia untuk entah berapa ratus tahun lamanya. Teman hidup. Dan bagi Anda yang butuh kehangatan dan kasih sayang, atau sekedar teman cerita di kala sepi, saya sarankan untuk memelihara anjing atau kucing. Mereka bisa menjadi teman baik, yang memberi kasih sayang sepenuhnya. Dan semua orang tentu butuh kasih sayang. Semua orang. Tidak terkecuali agen CIA yang ahli bela diri dan tidak kenal ampun. Tidak terkecuali Jason Bourne.

Kalau saya seandainya bisa bertemu Jason Bourne di Pont Neuf, mungkin saya akan ajak dia untuk mampir sebentar ke pet shop tadi. Saya akan suruh dia untuk ambil satu. Karena disana banyak sekali hewan kecil yang butuh rumah untuk tinggal, setidaknya tempat yang layak untuk pup. Bukan di kotak kaca yang sempit dan penuh sesak.

Keluar dari toko, saya pun menengok sebentar ke arah jembatan tadi, seolah mengucapkan selamat tinggal. Kemudian dengan kamera yang masih setia menemani di genggaman tangan, saya kembali meneruskan perjalanan. Kali ini menuju Notre Dame.

Thursday, October 11, 2007

Dalam beberapa bulan terakhir ini, dunia maya nampaknya dikejutkan (lagi) dengan booming salah satu social networking service (iya, lagi). Namanya Facebook. Saya sendiri terseret dalam arus ledakan. Hanya dalam hitungan minggu, teman saya bertambah dari 10 menjadi 105. Itu sekitar sepuluh kali lipat. Dahsyat. Padahal Facebook ini tidak lebih hebat dari, katakanlah Friendster atau MySpace. Prinsipnya juga masih sama: pasang foto, tulis about me, lalu tinggal lihat komen yang diberikan orang.

Mungkin booming yang terjadi akibat dari latah, atau ikut-ikutan. 'Gua juga harus bikin', gitu. Mirip seperti sineas Indonesia yang berduyun-duyun memproduksi film bertemakan horror. Kualitasnya dikesampingkan dulu. Namun booming ini mungkin juga akibat dari satu feature yang Facebook tawaran. Aplikasi. Ketika saya menulis blog ini, terhitung tidak kurang dari 5,613 aplikasi yang bisa ditambahkan di halaman kita. Jenisnya bermacam-macam. Ada yang berhubungan dengan musik, permainan, politik, bisnis, atau film. Ada juga yang berjenis balapan.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Aplikasi 'balapan' ini diberi nama (fluff)Friends. Disini kita bisa mengadopsi hewan peliharaan, memberi makan dan mengusap-usap (saya tidak bisa menemukan terjemahan pas untuk pet). Kemudian, kita bisa menantang hewan lain untuk balapan. Lumayan lucu. Tapi yang menarik untuk saya, adalah bahwa kemenangan si hewan ditentukan oleh dua faktor: kecepatan dan mood (lagi-lagi saya tidak bisa menemukan terjemahannya, biar deh ya). Dengan kata lain, hewan yang cepat dan bahagia kemungkinan menangnya akan lebih besar jika bertanding melawan hewan lambat dan bete. Logis sih memang. Tapi saya jadi berpikir, mungkin tidak sih kalau hewan ini jadi cepat karena sedang bahagia? Atau ternyata dia jadi lambat karena sedang bete? Mungkin saja toh? Itu kan juga logis.

Saya menghabiskan 4 bulan di semester lalu hanya untuk mempelajari ini. Apakah satu variabel memiliki hubungan yang kuat dengan yang lainnya apa tidak. Kalau iya berhubungan, seberapa kuat? Di statistik, ini dikenal dengan istilah analysis of covariance. Lebih baik tidak usah dibahas disini ya. Sebelum tulisan ini jadi membosankan. Sebelum nanti Meity marah-marah. Karena saya tahu, Meity paling benci matematika. Tapi coba lihat deh, teori kemungkinan ada dimana-mana. Ramalan cuaca pagi ini bilang kalau nanti malam, ada 20% peluang untuk turun hujan. Pertandingan sepakbola juga sama, selalu ada peluang kemenangan di setiap pertandingan. Meskipun untuk sepakbola, sedikit agak rumit. Banyak sekali variabelnya. Tapi pada dasarnya sama saja. Kemarin tim favorit saya, Intermilan, sukses menghantam Napoli 2-1. Dua gol diborong oleh Julio Cruz. Mungkin karena dia sedang tidak bete. Mirip dengan si hewan tadi.

Tapi walaupun kita sudah menghitung seakurat mungkin, tetap saja masih bisa salah. Kejadian tidak terduga seringkali terjadi. Karena selalu ada faktor lain yang memang tidak bisa dihitung. Orang menyebutnya 'faktor X'. Faktor keberuntungan. Ini juga yang membuat banyak orang mengeluh, merasa dirinya tidak seberuntung atau secakep Keanu Reeves. Atau mengeluh kenapa dirinya susah mendapatkan nilai ujian yang memuaskan. Tapi meskipun faktor keberuntungan tidak bisa dihitung, menurut saya keberuntungan tidak mustahil untuk diraih. Kuncinya kerja keras. Kalau boleh mengambil quote dari Thomas Jefferson, salah satu founding fathers negara kaya Amerika Serikat, katanya begini: I'm a great believer in luck. And I find that the harder I work, the more I have of it. Nah, yang ini juga logis kan?

Wednesday, October 10, 2007

Pernah nonton acara kuis berjudulkan kalimat di atas? Tadi malam saya iseng menyaksikan untuk yang pertama kalinya. Lucu juga. Konsepnya adalah dengan menantang si kontestan dengan pertanyaan-pertanyaan sekolah dasar, mulai dari 1st grade sampai 5th grade. Lawannya adalah anak berumur 10 tahun. Terdengar mudah. Namun ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Coba saja lihat disini.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Tapi memang kalau dipikir-pikir, materi sekolah anak SD memang terbilang sulit. Butuh memory yang hebat lho untuk bisa menghafal seluruh letak kota di hamparan Pulau Sumatra. Dan juga tidak gampang untuk mengingat seluruh menteri (beserta tugasnya) pada Kabinet Pembangunan IV jaman Pak Harto. Kagum. Kalau seandainya sekarang saya harus menghafal susunan lapisan awan di angkasa, saya pasti kesulitan. Tapi waktu kelas 5, saya yakin saya bisa.

Ketika masih menonton, saya berpikir. Kalau saja pertanyaannya mengenai hitung-hitungan, saya pasti bisa jawab. Karena kalau berhitung, sampai sekarang masih saya lakukan. Lantas keluarlah pertanyaan hitungan. Saya tersenyum penuh percaya diri. Pertanyaannya begini: How many teaspoons there are in 5 tablespoons? Mampus, saya tidak tahu jawabannya. Senyum saya hilang seketika. Ini mengingatkan saya pada dua hari yang lalu, dimana saya mau masak dan menanyakan resep pada ibu saya di rumah. Katanya, 'Siapin aja daging cincang 2 ons'. Saya lantas bingung, 2 ons itu berapa banyak? Ibu saya pun tertawa, katanya sarjana teknik mesin tapi kok tidak tahu bilangan ons. Biar saja, toh memang saya tidak pernah menghitung kekuatan struktur daging cincang.

Memang penting ya memori itu? Rasanya, kebanyakan orang sukses tidak mengandalkan pada memori. Agus Misyadi, satu-satunya orang yang mampu memenangkan 500 juta rupiah di acara Who Wants to be a Millionare versi Indonesia, adalah seorang loper koran di kawasan Cibubur. Kaya mendadak, iya. Sukses, belum tentu. Memang, memiliki memori tajam tidak menjamin kesuksesan. Lalu, buat apa sekolah susah-susah? Buat apa menghafal seluruh nama menteri? Toh nanti juga diganti. Toh nanti juga lupa lagi.

Ayah saya pernah bilang, kalau sekolah itu adalah untuk melatih pola pikir. Melatih logika dan kemampuan analitik. Membentuk karakter. Kuliah juga begitu, katanya semua jurusan tidak ada bedanya. Karena intinya sama, melatih kita untuk berpikir. Melatih otak kita untuk memetakan solusi ketika suatu masalah datang. Itu bedanya orang sukses dengan orang tidak sukses. Pengalaman.

Benar juga, di kantor rasanya saya tidak pernah menggunakan rumus yang pernah saya pelajari di bangku S1. Tapi saya tahu bagaimana caranya menyampaikan pendapat di depan orang banyak. Atau bagaimana mencari solusi terbaik pada pekerjaan saya. Itu semua kebanyakan saya dapatkan dari sekolah. Karena sekolah itu bukan hanya sekedar menghafal. Sekolah itu adalah interaksi, salah satu faktor terpenting dalam hidup.

Dan kalau misalnya saya membutuhkan sesuatu yang tidak bisa saya ingat, selalu ada internet. Selalu ada Wikipedia. Dan
selalu ada Google Search Engine. Jadi, jika Anda masuk ke situs google.com dan memasukkan 'two ounces in grams', Anda akan segera tahu bahwa 2 ons itu kurang lebih sama dengan 560 gram.

Tuesday, October 9, 2007

Empat hari dari sekarang, saya akan terbang ke Paris untuk mengunjungi ayah saya yang sedang bekerja disana. Saya yakin pasti akan seru, karena sekaligus merayakan Lebaran. Dan kalau dilihat dari tabiat ayah saya, perayaan Lebaran yang paling mungkin kita akan lakukan adalah dengan menyantap steak dan wine merah, ditutup dengan bir dingin. Khas Bapak Alex Supelli.

Setiap sebelum berangkat bepergian, termasuk kalau saya pergi ke tempat pacar saya di Belanda, saya selalu berusaha cermat. Semua barang-barang bawaan saya hampar di meja, disusun satu persatu berdasarkan lokasi penyimpanan. Di koper, di saku celana, di jaket, atau di backpack. Mungkin saya sedikit mengidap obsessive compulsive disorder, seperti Monica Geller dalam serial Friends. Pacar saya malah pernah bilang kalau saya melipat baju lebih rapi darinya (maksudnya wanita). Tapi tak mengapa, karena menurut saya persiapan itu penting. Saya mencoba menghindari kejadian yang paling tidak diinginkan oleh kebanyakan pelancong. Dimana ketika sudah berada di ketinggian 10,000 kaki di atas tanah, kemudian menyadari kalau memory card kamera masih tertancap di laptop. Konyol.

Sekali lagi, persiapan itu penting. Makanya rata-rata orang tua menyuruh anaknya untuk sekolah setinggi mungkin. "Demi persiapan untuk masa depan", gitu katanya. Sebenarnya sih saya agak kurang setuju, karena menurut saya sekolah itu process of living, bukan preparation for future living.
Tapi ya itulah, semua orang berusaha untuk mempersiapkan segalanya sebaik mungkin sebelum hari H tiba. Terlalu banyak contoh sehingga saya tidak akan menjabarkannya disini. Yang jelas, kita semua tidak ingin menyesali kegagalan hanya karena kurangnya persiapan.

Itu juga makanya saya membeli external hardisk untuk laptop saya. Karena saya tidak ingin data penting saya hilang jika suatu saat (mudah-mudahan tidak) laptop saya crash. Harddisk ini juga bentuk persiapan. Saya jadi teringat oleh laptop ayah saya yang juga dilanda crash. Buat dia tidak masalah, karena sama seperti saya, sudah ada back-up. Tinggal format ulang, semua beres. Kerusakan seperti tidak pernah terjadi.

Sayangnya hidup kita ini tidak demikian. Hidup hanya sekali jalan, dan tidak bisa diformat ulang di tengah-tengah. 'Waktu' adalah variabel yang bertambah terus, tidak bisa dikembalikan ke nilai awal. Probabilitasnya nol. Jika gagal, yang ada hanya penyesalan. Makanya, persiapkan segalanya dengan baik. Yes..?

Monday, October 8, 2007

Setiap saya berkunjung ke tempat pacar saya di Diemen, saya selalu menanti-nanti balapan Formula 1 di televisi. Bukan hanya karena di rumah saya tidak ada televisi sehingga saya tidak bisa menyaksikannya langsung dari Hamburg, tetapi juga karena saya termasuk fans berat Formula 1. Namun di suatu Minggu pagi, ketika sedang asyik bergumul dengan F1 di depan televisi, si Bacum, teman baik pacar saya yang kebetulan juga berada disana, ikut berkomentar. 'Wah, gua sih kalo nonton F1 ngantuk, ngebosenin', atau kira-kira begitulah. Saya yang mendengarnya tidak bisa protes, karena menurut saya ini adalah masalah selera.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Mungkin menurut Bacum, F1 hanya sekedar mobil yang melaju bolak balik landasan pacu. Monoton. Membosankan. Menurut sudut pandang saya, F1 penuh dengan intrik dan strategi, lengkap dengan mobil balap yang didukung dengan teknologi paling maju di muka bumi ini. Faktor kemenangan pun hanya ditentukan oleh satu per ratusan detik. F1 itu seru. Dinamis. Namun, beda sudut pandang saya dan si Bacum membuat saya tidak bisa memaksakan pendapat. Mungkin untuknya yang seru itu adalah sepakbola, permainan yang penuh dengan aksi individual yang memukau dan kerjasama tim yang apik. Tapi bagi sebagian orang, sepakbola hanyalah olahraga dimana satu bola ditendang bolak balik lapangan.

Sudut pandang memang membuat suatu hal bisa berbeda 180 derajat. Benar atau salah. Besar atau kecil. Monoton atau dinamis. Seru atau bikin ngantuk. Malah terkadang ini bisa memicu konflik. Makanya sering kita lihat pada layar kaca adanya demonstrasi di depan gedung kedutaan, misalnya. Atau celoteh George Bush yang ngotot bahwa perang di Irak adalah 'satu-satunya solusi' untuk mencegah terorisme. Mungkin politik tidak usah dibahas disini, nanti bisa tidak ada habisnya. Yang jelas, selalu ada dua kubu yang berada dalam dua sudut pandang berbeda.

Memang terkadang hidup itu sulit. Tidak lagi mudah seperti hidup seorang anak kecil, dimana semua terasa seperti dunia Teletubbies. Diisi hanya dengan bermain dan berpelukan. Setelah dewasa, si anak malah harus memihak antara ayah dan ibunya di kala perkawinan mereka sudah diujung tanduk. Si anak berada di daerah abu-abu. Dia mengerti penjelasan logis ayahnya mengapa mereka tidak lagi bisa bersama, namun juga ikut merasakan penderitaan ibunya. Jika si anak ditanya layaknya tagline film Transformers, choose your side, dia mungkin hanya bisa angkat bahu. Karena dia tahu, tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Dan jika si anak balik bertanya, apa jalan keluarnya, jawaban yang mungkin ia dapat adalah bahwa: perceraian adalah 'satu-satunya solusi'. Persis seperti George Bush.

Mungkin salah satu jalan adalah dengan komunikasi. Karena dengan komunikasi, dua sudut pandang bisa menjadi satu. Konflik tidak perlu terjadi. Siapa tau saya akan mendapat kesempatan untuk membahas dengan Bacum mengapa saya suka F1, dan mengapa dia tidak. Sehingga mungkin, hanya mungkin, di suatu Minggu pagi lainnya, saya dan Bacum bisa menikmati laju kencang mobil Ferrari melalui layar kaca. Tentu saja dengan ditemani secangkir kopi susu, dan sebungkus Marlboro.

Atau mungkin si ayah dan si ibu tadi, bisa duduk bersama dan mulai bicara. Karena ini memang bukan masalah benar atau salah. Hanya masalah perbedaan sudut pandang, dan bagaimana mereka menjembataninya.

Thursday, September 27, 2007

Kalau dulu saya pergi ke foodcourt BSM di Bandung, kemungkinan counter yang saya datangi akan selalu sama : Doner Kebab atau Mi Hotplet. Begitu juga sesampainya di Doner Kebab, pilihan saya pasti tertuju ke paket kebab kambing, plus kentang goreng. Sama saja dengan Mi Hotplet, saya pasti pesan mie hotplate dengan black pepper beef. Kalaupun terpaksa harus jajan untuk ganjel perut, kemungkinan pilihannya (diurutkan berdasarkan prioritas) : baso malang, pempek, atau batagor. Buka website, dari sekian puluh juta website yang ditawarkan, paling browsing yang dilakukan hanya sekitar friendster, e-mail, atau youtube, mungkin sekali-sekali buka fotografer.net. Konversasi di telfon hanya terbatas pada orang-orang itu saja, kalau tidak pacar ya keluarga.

Manusia memang creature of habit alias ‘makhluk kebiasaan’, sangat jarang keluar dari kebiasaan. Makanya kita sering mendengar istilah the force of habit, karena memang kebiasaan merupakan hal yang powerful. Lihat saja, Doner Kebab di BSM punya banyak sekali menu menarik, mulai dari ayam goreng, salad sampai berbagai macam daging dan belasan variasi topping. Jarang saya makan. Jajanan di pinggir jalan juga banyak sekali, mulai dari baso tahu, martabak, soto, sampai hotdog yang konon rasanya lebih nikmat dari hotdog yang dijual di New York. Tapi toh juga jarang saya beli. Koneksi internet menawarkan jumlah website yang tidak terhingga, semuanya ada. Juga jarang saya lihat. Di handphone saya banyak sekali alamat dan nomer telfon, hingga mencapai ratusan. Itu juga sebagian besar tidak pernah saya telfon.

Terbukti, banyaknya pilihan tidak lantas membuat kita jadi banyak memilih. Lagi-lagi ini karena kekuatan dari kebiasaan, kita cenderung untuk memilih apa yang sudah pas dengan kita. Karena sudah biasa, karena tidak ingin mengambil resiko. Saya tidak menghimbau Anda untuk mengambil resiko, apalagi meminta untuk memilih pilihan alternatif dibandingkan dengan pilihan yang konvensional. Yang jelas, apa pun pilihannya, pilihan harus dilakukan. Karena mau tidak mau, di satu titik dalam hidup, memilih tidak terhindarkan. Sulit memang, tapi wajib. Wajib, karena memilih sudah harus menjadi bagian dari hidup. Our lives are a sum total of the choices we have made. Gitu..

Teringat dengan quote dari film Bruce Almighty, ‘free choice is always be ours’.. Tapi apa benar ‘bebas memilih’ membuat kita memilih sesuai dengan yang kita inginkan? Rasanya tidak, bebas memilih bukan berarti kita memilih dengan bebas. Resiko berperan kembali. Teman baik saya pusing tujuh keliling memilih kamera apa yang dia inginkan, dengan segala merk dan jenis yang ada di pasaran. Akhirnya, Google bekerja, forum di berbagai website menawarkan guidancesimple, karena tidak mau ambil resiko.

Tapi tidak selamanya memilih itu memerlukan referensi, terkadang pilihan harus didasarkan pada refleksi diri. Esensinya adalah mencoba memahami diri kita sendiri, apa yang kita inginkan; meski terkadang memang tidak gampang. Kalaupun saya pada akhirnya memilih untuk menyantap kebab isi daging ayam, dan ternyata rasanya tidak enak, tidak masalah. Toh saya sudah memilih, dan yang terpenting, saya belajar. Seperti dari quote yang saya temukan : I chose and my world was shaken. So what? The choice may have been mistaken, but the choosing was not.. Just keep moving, and learn your life. Setuju?

Tuesday, September 18, 2007

Setelah satu tahun saya tinggal di Hamburg, keputusan membuat blog akhirnya dijalankan juga. Awalnya penuh keraguan dan berprinsip tidak mau ikut-ikutan. Tapi entah mengapa, rasanya banyak sekali hal terpendam yang harus dikeluarkan. Kata orang, kalau terlalu lama disimpen nanti bisa jadi penyakit. Yah, tidak ada suka yang jatuh sakit kecuali kalau bermotivasi ingin bertemu suster cantik di rumah sakit. Jadi inilah, saya mulai juga ikutan ngeblog. Untuk mencurahkan isi pikiran, untuk menuangkan apa yang ada di hati. Daripada jadi penyakit. Ya toh..?